Luka
yang dulu terbuka lebar sedikit demi sedikit mulai membaik. Namun belum kering
sepenuhnya dan kau sudah mendorongku lagi. Aku jatuh ! luka itu kini menganga lebih
lebar dan terasa berlipat sakit yang ku rasakan.
Kau tau? Aku mulai percaya akan rasamu. Aku
percaya ini cinta. Namun mungkin aku terlalu percaya diri. Mungkin aku terlalu
bodoh. Mungkin aku salah mengartikannya. Harusnya aku sadar, terlalu tolol
menganggap perhatianmu yang nyatanya tak hanya kau berikan padaku. Aku hanya
pelarian ! persinggahanmu saat kau lelah. Dan bodohnya, aku benar-benar sangat
mencintaimu. Orang yang nyatanya menaruh cintanya pada banyak hati.
Selama ini aku terus mencoba menutup
telingaku dan berusaha tak mendengar semua kabar tentang keburukanmu. Aku terus
mempercayai dan bertahan disini untukmu. Aku percaya bahwa kau memang benar
sudah berubah. Tapi ternyata kau memang aktor cerdas ! apa kau tak sadar yang
aku inginkan hanya sebuah penyatuan yang nyata, jelas. Realis!
Sering kau katakan bahwa rasamu dan rasaku
adalah sama, Cinta. Cinta yang kau bilang begitu besar hingga mampu
mempertemukan kita kembali dan membuat kita rela menunggu bahkan sampai kita
benar-benar bersatu dalam ikatan cinta yang suci kelak nyatanya hanya cinta
sepihak dan hanya aku yang benar-benar merasakan serta menjaga cinta tulus ini.
Apa kau tau? Rasa yang teramat
sakit ini sangat sulit dijelaskan. Bahkan aku tak sanggup walau hanya untuk
sekedar bicara denganmu melalui ponsel. Mulut ini seakan ingin bicara, memaki,
teriak ! namun hanya bungkam yang dapat terungkapkan. Maafkan aku. Aku mengerti, hubungan ini tak berstatus nyata. Seharusnya
aku tak berhak menuntut apapun darimu. Aku hanya perlu penjelasanmu ! oh iya, tak
usah kau tanyakan lagi padaku tentang kelanjutan kisah ini. Aku sudah terlanjur
mempercayakan hati ini sepenuhnya padamu. Aku akan menunggumu selesai
memerankan tokoh seorang penyuka. Aku akan menunggumu sampai kau selesai
mementaskannya.





