Kamis, 17 Oktober 2013

"Only Hope"

Diposting oleh Unknown di 04.46 0 komentar
There's a song that's inside of my soul. 
It's the one that I've tried to write over and over again
I'm awake in the infinite cold. 
would you sing to me over and over again 
So, I lay my head back down. 
And I lift my hands and pray To be only yours, 
I pray, to be only yours  
I know now you're my only hope.
Sing to me the song of the stars. 
Of your galaxy dancing and laughing and laughing again. 
When it feels like my dreams are so far  
Sing to me of the plans that you have for me over again.
So I lay my head back down. 
And I lift my hands and pray To be only yours, 
I pray, to be only yours  
I know now, you're my only hope.

I give you my destiny.
I'm giving you all of me. 
I want your symphony, singing in all that I am  
At the top of my lungs, 
I'm giving it back.
So I lay my head back down.  
And I lift my hands and pray To be only yours, 
I pray, to be only yours 
I pray, to be only yours  
I know now you're my only hope 

 

Selasa, 15 Oktober 2013

Crush?? NO ! Please

Diposting oleh Unknown di 00.40 0 komentar
October,
At this month, my first breath
The beginning of my life
At this month, i found you
As someone who means everything for me
Please ! Don't crush my october !!

Jumat, 06 September 2013

Bukan kau !

Diposting oleh Unknown di 02.54 0 komentar
Aku merasa seperti sampah, yang kau pikir sudah tak berguna dan tak kau butuhkan lagi !
Tapi saat rasa sepi ini menghantuiku aku masih mencari sosokmu untuk temaniku. haha bodoh !

Kau mengingatkanku bagaimana rasanya sakit yang teramat sakit. lagi
Aku sudah melepaskanmu, lagi
Mungkin seperti janjimu, kau memang akan kembali. lagi
Tapi mungkin juga tak akan kembali padaku lagi


HEYY..! AKU SUDAH KAU BUANG !! :D
APA KAU AKAN KEMBALI UNTUK MEMUNGUTKU??
MENGAMBILKU, AKANKAH??
AKANKAH KAU AKAN MENYAYANGIKU LAGI????

Kau menunggu persetujuanku untuk menjalin hubungan dengan gadis lain. Aku sengaja tak menjawab dengan pasti pertanyaanmu. Aku tau, kita tak akan bisa bersatu saat ini, aku mengerti ! tapi yang aku mau bukan seperti ini untuk menyelesaikan masalah kita. Kau bilang, tak akan ada yang dirugikan. sadarkah?? Aku merasa kau rugikan ! merasa sangat tersakiti atas keinginanmu !semua kau lakukan hanya demi kepentinganmu sendiri kan? Egois ! jika kau memang menyayanginya, kau bisa terus terang padaku tanpa harus mengatasnamakan masalah kita ! bukan dengan menjadikan dia seakan jadi solusi masalah itu !


Sayang, apa kau sudah lupa rasanya sakit hati?? jika aku boleh mengingatkanmu, rasanya seperti saat kau ditusuk berkali-kali dengan pisau yang tak begitu tajam. sakitt, menyiksa !
Sayang, masalah hati bukan masalah yang bisa dengan mudah kau permainkan ! Bukan karena dia benar benar tulus mencintaimu, kau bisa perlakukan dia seakan hatinya terbuat dari baja ! seberapapun tulusnya ia padamu, Hati tetaplah hati. rapuh !
Sayang, apa kau lupa akan adanya karma??
Sayang, kau lupa bahwa cinta bukan sebuah permainan ! Sandiwara didunia ini bukan kau sutradaranya !

Kamis, 29 Agustus 2013

Menunggumu Selesai Memerankannya

Diposting oleh Unknown di 03.08 0 komentar


Luka yang dulu terbuka lebar sedikit demi sedikit mulai membaik. Namun belum kering sepenuhnya dan kau sudah mendorongku lagi. Aku jatuh ! luka itu kini menganga lebih  lebar dan terasa berlipat sakit yang ku rasakan.
Kau tau? Aku mulai percaya akan rasamu. Aku percaya ini cinta. Namun mungkin aku terlalu percaya diri. Mungkin aku terlalu bodoh. Mungkin aku salah mengartikannya. Harusnya aku sadar, terlalu tolol menganggap perhatianmu yang nyatanya tak hanya kau berikan padaku. Aku hanya pelarian ! persinggahanmu saat kau lelah. Dan bodohnya, aku benar-benar sangat mencintaimu. Orang yang nyatanya menaruh cintanya pada banyak hati.
Selama ini aku terus mencoba menutup telingaku dan berusaha tak mendengar semua kabar tentang keburukanmu. Aku terus mempercayai dan bertahan disini untukmu. Aku percaya bahwa kau memang benar sudah berubah. Tapi ternyata kau memang aktor cerdas ! apa kau tak sadar yang aku inginkan hanya sebuah penyatuan yang nyata, jelas. Realis!
Sering kau katakan bahwa rasamu dan rasaku adalah sama, Cinta. Cinta yang kau bilang begitu besar hingga mampu mempertemukan kita kembali dan membuat kita rela menunggu bahkan sampai kita benar-benar bersatu dalam ikatan cinta yang suci kelak nyatanya hanya cinta sepihak dan hanya aku yang benar-benar merasakan serta menjaga cinta tulus ini.
Apa kau tau? Rasa yang teramat sakit ini sangat sulit dijelaskan. Bahkan aku tak sanggup walau hanya untuk sekedar bicara denganmu melalui ponsel. Mulut ini seakan ingin bicara, memaki, teriak ! namun hanya bungkam yang dapat terungkapkan. Maafkan aku. Aku mengerti, hubungan ini tak berstatus nyata. Seharusnya aku tak berhak menuntut apapun darimu. Aku hanya perlu penjelasanmu ! oh iya, tak usah kau tanyakan lagi padaku tentang kelanjutan kisah ini. Aku sudah terlanjur mempercayakan hati ini sepenuhnya padamu. Aku akan menunggumu selesai memerankan tokoh seorang penyuka. Aku akan menunggumu sampai kau selesai mementaskannya.

Rabu, 03 Juli 2013

Selfish

Diposting oleh Unknown di 19.41 0 komentar
I can't lie to myself. I'm happy to see your smile.
But, i don't want you to be mine.
I promise to stop bother you.
Sorry, 
because I'm always shy when you ask about my feelings
I'm just afraid you'll tell me to forget you. 
I was so relieved when you said  
"selfish. I'm afraid you're loving everyone else."

Senin, 01 Juli 2013

Sahabat itu Selamanya

Diposting oleh Unknown di 01.37 0 komentar
Persahabatan tidak bisa terjalin begitu saja. Pasti ada proses yang menjadikan tali persahabatan itu nyata. Persahabatan pasti diwarnai bumbu2 suka dan duka. Dalam persahabatan kita pasti pernah dikecewakan-dimengerti, diabaikan-diperhatikan, dibantu-ditolak. Tapi semuanya tidak pernah disengaja dengan tujuan menyakiti. Sahabat akan mengatakan yang sebenarnya meskipun itu akan menyakitkanmu, karena dia ingin kamu jadi pribadi yang lebih baik.

Sahabat adalah mereka yang selalu ada saat semua orang pergi meninggalkanmu. Sahabat adalah mereka yang mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dalam dirimu, mereka akan selalu menyemangatimu. Sahabat adalah mereka yang selalu menginginkan apa yang terbaik untukmu. Mereka akan menjadi Ayah untuk melindungimu, menjadi Ibu yang cerewet demi keberhasilanmu, mereka bisa jadi kakak bahkan adik. Mereka bisa jadi apapun.

Bagiku, sahabatku adalah segalaku. Mereka adalah tempatku berbagi cerita, berbagi cinta, tangis, bahagia.. Semuanya. Mereka lebih dari sekedar teman. Meskipun sekarang Jauh, bagiku mereka tetap dekat. mereka selalu ada dan melekat dihatiku.
 Sayaaaanggg mereka :*****

Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya. - See more at: http://unik-zona.blogspot.com/2013/04/ini-dia-makna-persahabatan.html#sthash.vVjyp22Z.dpuf

Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya. - See more at: http://unik-zona.blogspot.com/2013/04/ini-dia-makna-persahabatan.html#sthash.vVjyp22Z.dpuf
Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya. - See more at: http://unik-zona.blogspot.com/2013/04/ini-dia-makna-persahabatan.html#sthash.vVjyp22Z.dpuf
Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya. - See more at: http://unik-zona.blogspot.com/2013/04/ini-dia-makna-persahabatan.html#sthash.vVjyp22Z.dpuf

Senin, 24 Juni 2013

PHP atau Terlalu berharap??

Diposting oleh Unknown di 02.44 0 komentar


PHP istilah yang lagi nge-trend banget dikalangan ABG2 jaman sekarang. Sebenernya apa sih PHP itu?. Hmmh.. PHP (Pemberi Harapan Palsu) menurut saya sih orang yang suka ngumbar2 janji/harapan2 tapi ga ada ujungnya gitu.
Meskipun sebagian orang bilang “PHP itu ga ada. Kamu aja yang terlalu berharap”. TAPI, saya masih beranggapan kalo tukang PHP itu emang nyata adanya. Okelah, emang ada yang terlalu berharap. Tapi gimana sama orang yang biasanya bilang, “aku sayang kamu” pakek emoticon :* segala? Orang yang biasanya rutin ngucapin “selamat malam”, “selamat pagi” dsb? Orang yang biasanya manggil kita dengan panggilan kesayangannya? Orang yang sok2 jealous kalo kita deket orang lain? Orang yang suka ngajak keluar berdua aja? TAPI tiba2 dia malah ngilang gitu aja? Dan tau2 udah jadian ama orang lain. Apa itu bukan PHP namanya????


Coba dipikir lagi deh kasus2 yang seperti itu. Siapa yang ga berharap kalo tindakan si PHP kayak gitu ke kita???
Kalau kamu emang ga ada niatan ngasih dia harapan, jangan bertindak seolah2 kamu ngasih ruang buat dia.! Terutama buat kaum adam ya(soalnya tersangka yang paling banyak cowo, meskipun cewe juga ada) ! okeh, maaf..terbawa emosi -__-
Tapi memang ada juga kasus yang si korban terlalu berharap. Padahal tersangkanya ga berniat ngasih harapan.
Yaah, PHP atau enggak itu mah tergantung dari sisi mana kita melihat. Kadang cerita antara si Korban sama si Tersangkanya juga beda. Kan Hakimnya juga jadi bingung :D haha
Intinya sih. Saya nitip pesen aja nih buat cowo2, kalo emang ga beneran cinta/sayang sama si cewe, jangan terlalu ngasih perhatian atau terlalu baik. Ntar malah di cap PHP. Juga buat kaum hawa jangan seneng dulu kalo ada cowo yang baik sama kamu, pastikan dulu. Dan jangan terlalu ngarep. Ntar ujung2nya malah sakit loh.sakitnya tuh disiniii *korbaniklan*

Minggu, 02 Juni 2013

MOLAN (Monumen Keadilan) dan RSM (Rumah Sakit Menyakitkan)

Diposting oleh Unknown di 22.04 3 komentar
yuhuuu..pas lagi iseng2 buka facebook, dapet undangan nih dari mas Pepeng 'Cuci Otak' buat nonton pementasan teater.
pertama liat langsung tertarik dan ngebet banget nonton nih pementasan. apalagi pas liat daftar nama orang2 yg terlibat dalam proses pementasan ini.. Kece2 bangeeett.. kayaknya bakalan jadi pementasan yang suppeerrr kereeennn :) wajib nonton !!

Pentas Pertama :13.00 - selesai
MOLAN (Monumen Keadilan)

Sinopsis : dua jabang bayi dan dipisah, slah satunya di buang dipasr dan tumbuh menjadi pencopet, dan satunya lgi menjadi pelacur karena perekonomian keluarganya minim, di jual oleh ibunya sendiri, namun waktu mempertemukan mereka berdua, bukan sebagai kakak beradik melainkan sebagi sepasang kekasih yg menginginkan untuk hidup bersama alias menikah. hanya ada satu yang bisa menjawab tak lain monumen keadilan.

Pentas Kedua :18.00 - Selesai RSM(Rumah Sakit menyakitkan)
Sinopsis :
pelayanan di rumah sakit yang telah lama pudar unsur sosial dalam setiap pelakunya, menganggap pasien sebagai boneka yang gampang sekali dibodohi dengan istilah2 medis yang sulit di mengerti, sehingga RS itu sendiri dijadikan sbg tmpt proyek besar2an dalam proses memperkaya diri, mulai dari diagnosis ekstrim tentang gejala penyakit dari si penderita hingga penjualan organ tubuh. kmudian muncul istilah dan yang pasti masyarakat kecil selalu jd korbannya "OJOK LORO TAMPA BIOYO"

dapatkan segera tiketnya :
*VIP : Rp. 15.000/tiket=1pementasan (+Perdana pulsa Rp.5.000 + Softdrink)
*Non VIP Rp. 10.000/tiket=1pementasan (Non Fasilitas)
contact person :
0852 587 11171 (Pepeng)
0852 5871 5939 (Jemmy)
0852 5871 5523 (Pras)

Perform Art : Akustik
Guest Start : GOTBESTTER PERCUSSIONS, JAMJENK

mari kita apresiasikan bersama, semoga realita ini mampu menjadi nilai tawar dan pecerdasan bagi semua pengunjung...

"Semoga Darah Seni Tetap Mengalir Tak Kan Berhenti Hingga Mengering Di Ujung Hati"

Naskah Asli Perempuan telaga duka

Diposting oleh Unknown di 21.28 1 komentar


Naskah pementasan Teater SENYAWA
(Jakarta - Bandung, 2-8 November 2007)
Diadaptasi dari cerita pendek karya Lian Kagura yang berjudul “Perempuan Telaga Duka”
Sutradara: Meiliana Komalarini
Casting   : Divisi Script & Casting Teater SENYAWA
Script Writer: Lia Octavia, Meiliana Komalarini, Lilyani Taurisia, Yanuardi
PEREMPUAN TELAGA DUKA
Character:
                                                                                                                                               
1)      Paijo: lugu, polos, sopan, pendiam, introvert, patuh pada ibu, suka memendam perasaan yang bergejolak, mengaji pada Ustadz Abdullah, pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, anak laki-laki satu-satunya
2)      Retno: periang, ceria, friendly, tergantung pada Widodo, tetapi berubah seratus delapan puluh derajat ketika Widodo menghilang; kosong, separuh jiwanya hilang, bengong, suka termenung-menung di tepi telaga
3)      Widodo: romantis, penyayang, care, sering menasehati Retno
4)      Ponirah: cerewet, bersuara keras, kata-kata yang menusuk, terlalu sayang pada Paijo, melarang Paijo pergi merantau
5)      Subroto: sahabat almarhum ayah Paijo, lulusan dari kota yang menjadi kepala sekolah, karena alm ayah Paijo sahabatnya, maka ia merekrut Paijo menjadi guru dengan pendidikan Paijo yang hanya setingkat SMA, mendukung Ponirah dengan alasan Paijo anak laki-laki satu-satunya yang harus menjaga ibunya
6)      Sulastri: cerewet, gemar ngerumpi, teman ngerumpi Ponirah, gemar membanggakan anaknya yang banyak uang setelah pergi merantau, mendorong Ponirah dengan sangat keras agar mengijinkan Paijo pergi merantau
7)      Bejo: teman Paijo dari kecil, bergaya norak ala kota, suka mengatakan hal-hal yang hiperbola, nyeleneh, senga, sok bergaya, kasar, suka menyakiti Paijo dengan kata-kata kasar, sombong
8)      Ustadz Abdullah: guru mengaji di musholla tempat biasa Paijo shalat, suka kotbah dan menceramahi serta menggurui, menjadi tempat curhat Paijo karena Paijo tidak punya orang yang dianggap pas sebagai tempat curhat
9)      Aini: tidak begitu cerewet, teman ngerumpi Ponirah & Sulastri, suka menceramahi teman-teman ngerumpinya karena ia sering mendengar ceramah suaminya, jadi ia hapal luar kepala, berusaha tidak memihak pada Ponirah atau Sulastri dan sangat membangga-banggakan suaminya yang seorang ustadz
10)   Sumiati: teman Paijo dari kecil, bergaya norak asal kota, sok, gaul, suka menggosip dan mengata-ngatai Paijo yang pendiam, ia merantau ke kota menjadi PSK di sana tanpa diketahui orang tuanya
11)  Riandi: seorang guru PNS yang sedang menjalani masa dinas 2 tahun di desa terpencil tempat tinggal Paijo, bete dan bosan dengan suasana desa, sering curhat tentang bete-nya pada Paijo, mendorong Paijo dengan halus agar merantau
12)  Sri: murid yang gaul, suka meminta perhatian Paijo dan suka bikin masalah di kelas (trouble maker)
13)  Parinem: murid Paijo yang ingin tahunya besar dan banyak bertanya hal-hal yang tidak perlu ditanyakan pada Paijo sehingga Paijo sering kehabisan kesabaran bila menghadapinya

BABAK I
Tentang Sepenggal Kisah Cinta Retno Sehingga Telaga Itu Terkenal Sebagai Telaga Duka
Scene 1:
(Narrator mendeskripsikan suasana di tepi telaga duka yang tenang dn hening. Hanya ada suara gemericik air dan kicau burung. Saat Retno dan Widodo biasa bertemu di sana)
Narrator 1        : Di punggung ngarai sebuah gunung, di mana burung-burung masih gemar bernyanyi, angin sejuk membelai dedaunan yang rimbun, hening, tenang. Hanya gemericik air yang jernih yang terdengar, terdapat sebuah telaga, dengan bebatuan dan rumput-rumput ilalang yang tumbuh di sekeliling tepiannya. Di bawah langit senja yang kian memerah
 (Dilanjutkan dengan dialog antara Retno & Widodo yang menggambarkan karakter Widodo yang romantis, penyayang, care dan sering menasehati Retno, sehingga Retno menjadi merasa tergantung padanya) – Dialog Widodo dan Retno dalam bentuk puisi
(Retno dan Widodo berdiri di pinggir telaga)
Widodo            : (tersenyum gembira) Duhai bidadariku, kau tampak cantik sekali sore ini. Siang, malam, bahkan mentaripun enggan beranjak ke peraduannya, ingin berlama-lama menatap wajahmu yang jelita dan anginpun ingin membelai rambutmu.
Retno               :  (tersenyum gembira) engkaupun terlihat gagah sore ini. Aku juga menantikan saat-saat berjumpa denganmu. Meniti hari, bersama menatap merahnya langit senja, disaksikan oleh nyanyian burung-burung dan sejuknya air telaga ini.
Widodo            : (bingung) Akupun demikian. Tetapi, mengapa matamu terlihat sembab? Apa yang terjadi? Apakah kau habis menangis?
Retno               : (tersipu malu) Ah Kakanda Widodo, aku menangis bukan karenamu. Tetapi karena begitu merindukanmu. Terutama di malam-malam dingin yang tak berawan, bintang enggan menari dengan rembulan. Aku sungguh kesepian tanpamu. Aku selalu teringat padamu. Aku ingin selalu bersamamu. Aku tak mau membagimu dengan seorangpun.
Widodo            : (memegang kedua bahu Retno) bersabarlah. Sabar itu adalah pelita hati, penghias akhlak dan penenang jiwa. Percayalah, buah kesabaran itu manis rasanya. Bukankah aku selalu datang menjumpaimu di sini? Dan ingatlah selalu pada Sang Maha Kasih, karena Ia-lah kita dapat selalu berjumpa di sini.
Retno               : Ya benar, Kau benar. Kau selalu benar. Tetapi aku seringkali ingin memutar dunia ini lebih cepat sehingga waktu berpacu mengalahkan segala rasa dan membawaku ke senja dimana aku dapat bertemu denganmu. Dan aku berharap waktu berhenti selamanya, saat aku bersamamu.
Widodo            : (tersenyum) Sabar dan ikhlaslah dalam menjalani hari. Ikhlas menunggu saat-saat bahagia kan menjelang. Berjanjilah padaku kau tak akan menangis lagi?
Retno               : (meletakkan tangan kanan di dada) Aku berjanji. Apapun yang kau katakan adalah titah bagiku.


Narrator 1        : Di atas bebatuan, di bawah pohon beranting dan berdaun lebat, bersama-sama menyaksikan ratu malam menurunkan tirai hitamnya, menutupi langit senja yang kian memudar bersama mentari.


 


Scene 2:
(Menceritakan tentang Widodo dan Retno yang berjanji untuk bertemu di telaga duka pada senja keesokan harinya.  – Dialog Widodo dan Retno dalam bentuk puisi
Widodo            : tak terasa sudah hampir seribu senja kita habiskan bersama di tepi telaga ini. Apakah kau tidak bosan duduk di sini bersamaku?
Retno               : (bingung) Bosan? Bagaimana mungkin aku bosan bila bersamamu? Lihatlah rumpun-rumpun bunga yang meliuk lembut ditiup angin, langit merah mengarak senja, burung-burung terbang rendah kembali ke sarangnya,  dan permukaan air telaga ini tampak begitu jernih dan tenang. Setenang hatiku bila bersamamu.
Widodo            : Lega hatiku mendengarnya. EmMm.. apakah engkau bersedia untuk menungguku di sini esok hari? Aku hendak membicarakan sesuatu yang sangat penting denganmu.
Retno               : (tersenyum penuh semangat)Tentu saja. Apapun yang kau katakan adalah titah bagiku. Aku akan menunggumu di sini, esok hari, kala cakrawala mulai membiaskan merah saganya, kala mentari mulai mengatupkan kelopak matanya, hingga Kanda datang menemuiku di sini.
Widodo            : (memohon) Dan maukah engkau berdandan yang paling cantik untukku? Aku sangat suka bila melihatmu mengenakan kebaya putih dan kain lurik cokelat, dengan gelang di pergelangan tanganmu. Dan aku sangat suka bila engkau mengurai rambut panjangmu yang hitam.
Retno               : (tersenyum penuh semangat) Tentu saja, Kanda. Apapun yang kau minta akan aku turuti. Kata-katamu adalah titah bagiku.
Widodo            : (serius) Dan kau menungguku di sini sampai aku datang?
Retno               : (sambil memandangi telaga) Aku akan selalu menunggumu disini. Hingga butir-butir pasir tidak lagi menyentuh pantai. (menghadap ke Widodo) Apa yang akan engkau bicarakan padaku?
Widodo            : Sabar. Tunggulah hingga esok senja menjelang. Kau akan mengetahuinya. Sesuatu hal yang akan mengubah masa depanmu untuk selamanya.

Scene 3: 
(Pada senja esok harinya, Retno datang ke telaga duka dengan berdandan rapi, menunggu kedatangan Widodo di tepi telaga, tetapi Widodo tidak datang-datang. Retno duduk di tepi telaga hingga malam tiba.
Retno               : (lelah) Duhai kakanda, dimanakah engkau berada sekarang? Aku sudah duduk menunggumu di sini, di tepi telaga ini. Aku menunggumu datang untuk mendengarmu mengatakan hal penting itu. Lihatlah, aku sudah mengenakan kebaya putih dan kain lurik cokelat kesukaanmu. Rambutkupun sudah tergerai mewangi, hingga kupu-kupu beterbangan dan kunang-kunang menari di sekitarku, dan senjapun tersenyum menatapku. Tetapi… engkau belum datang juga….
Narator1 : Senja esok harinya
Narrator 1        : Senja telah kembali memerah di ufuk barat, menyapa insan yang tengah menunggu cinta
Retno               : (duduk-berdiri-duduk di atas batu) Duhai Kanda … di manakah engkau berada? Mengapa hingga kini engkau tidak datang-datang juga? Kesalahan apa yang aku lakukan sehingga engkau tidak lagi datang menemuiku? Aku selalu menuruti kata-katamu. Kata-katamu adalah titah bagiku. Engkau berada di mana?
Narator 1 : Beberapa senja kemudian
Narrator 1        : Senja tak bosan-bosannya datang ke haribaan dunia. Entah kehadirannya diharapkan atau tidak, ia selalu setia menghampiri dan menyelimuti buana dengan selendang merahnya. Namun, bukan senja yang ditunggu, melainkan kedatangan cinta.
Retno               : (menangis sambil duduk di atas batu) Kanda… Engkau ada di mana sekarang? Aku begitu merindukanmu… Aku ingin bersamamu… mendengar suara lembutmu… melihat senyummu … Kemanakah engkau, Kanda??? Engkau ke manaaaa???
Narator 1: Beberapa senja kemudian
Narrator 1        : Senja kembali datang. Datang membawa asa. Pergi membawa rindu. Dan malam menghias dengan putus asa dan air mata.
Retno               : ( Retno duduk terbengong-bengong)  Kanda, sudah hampir seratus senja telah berlalu. Daun-daun menjadi kering dan berguguran ke tanah, nyanyian burung-burung terdengar serak, angin bertiup sangat dingin, membekukan hatiku, yang kian membiru, di dalam rindu. Dan telaga ini, Telaga Dukaku, menjadi saksi bisu, kerinduan hatiku, padamu … 
Narrator 1        : Sepi membalutnya dalam kesunyian yang abadi. Di dalam penantian yang tiada berujung. Sepi yang melebur dalam rindu. Rindu yang beku. Membekukan segala rasa, menghempaskan segala asa….
 


BABAK II

Tentang kehidupan Paijo sehingga ia ingin bunuh diri di telaga duka

Scene 1:

(Menceritakan mengenai kondisi psikologis Paijo yang mendapat tekanan dari lingkungannya) – Narrator dalam bentuk puisi

Narrator 2        : Di sisi lain ngarai itu, di punggung gunung yang sama, di bawah langit senja yang sama, laki-laki muda merajut hari, di dalam dunia yang jarang tersenyum padanya. Sepenuh hati menahan rasa, akan asa dan angan-angan yang terbuang. Akan mimpi yang tak pernah menjadi miliknya. Tak dapat banyak berharap. Dunia tidak memberi banyak tempat luang di dalam keberadaannya. Mengiris, menyayat perasaan. Hingga ia dekap segala luka yang bercucuran mengalir dari hati seputih kertas.

Narator: membuat puisi tentang tekanan-tekanan yang sangat menghimpitnya hingga terbawa tidur (belum dibuat)

Narrator 2        : tak kuasa hati menanggung, beban jiwa yang kian menghimpit. Hari-hari kering, bahkan mimpipun berbunga bangkai, terus mengejarnya hingga ke ujung waktu.

(Narator: menjelaskan siapa tokoh Ponirah)

Narrator 2        : Dalam hangatnya belaian dan kasih sayang ibu, tercurah pada permata hati satu-satunya, setelah belahan jiwa telah lama berpulang pada Sang Cinta. Mendekap erat buah hati, walau kadang ia lupa, buah hati tercinta telah beranjak dewasa. Cinta seorang ibu, yang mengalahkan dalamnya samudera, luasnya jagad raya dan tingginya cakrawala.

Ponirah : (menyiapkan sarapan) Le! Ayo sarapan!

Paijo     : (langkah tak bersemangat menuju meja makan sambil membawa tas kerjanya) Bu, saya    ingin ke kota. Ingin mengadu nasib. Siapa tahu hidup kita bisa lebih baik. Lihat teman-teman SMA-ku. Mereka sudah bisa mengangkat kehidupan keluarganya.

Ponirah : (sambil duduk) Le, bukan ibu nggak kasih. Ibu hargai niat baikmu...,tapi ibu nggak ingin kamu seperti Bejo, atau Sumiati. Gaya mereka berlebihan.

Paijo     : (menggaruk kepala yang tidak gatal)Tapi Bu...

Ponirah : (meletakkan gelas di meja)Sudahlah! kowe tega meninggalkan ibu sendiri di desa?

Paijo     : (memohon) Bukan begitu Bu...

Ponirah : (marah)Ya sudah di desa saja! Tugasmu banyak di desa ini! Menjaga ibu untuk ayahmu! Membalas budi baik pak Subroto yang telah memberimu pekerjaan di sekolahnya Meningkatkan kecerdasan anak-anak di desa ini! Membangun desa ini!

(Paijo kembali posisi tidur)

Scene 2:

Narator: mejelaskan siapa tokoh Bejo, dan Sumiati.

Narrator 2        : Sahabat, apakah Sahabat yang dulunya pernah mewarnai jalan bersama-sama, tertawa dan menangis bersama, tetapi setelah pernah terpisah jarak dan waktu, seakan menjadi orang asing yang tak bisa dikenali lagi

(Bejo, dan Sumiati bertemu di jalan besar)

Bejo     : Cie...sumi, ponsel baru nih!

Sumiati : (memainkan ponsel di depan wajahnya) Tentu saja baru! Hidup gua kan makmur. Bentar-bentar! Lo panggil gua apa?sumi! Kampung banget! Nama gua sudah ganti!

Bejo : Maaf deh!

Sumiati : huh.. Lo pikir? Kalo pekerjaan gua pembantu, gak ganti nama sih pantas!

Bejo : Trus apa?

Sumiati : (kesal) Panggil gua Mita! Ingat baik-baik di otak lo yang paling waras!

Jangan sampai...

(Paijo menuju sekolah sambil membawa tas dan bertemu mereka bertiga di tengah perjalanannya)

Paijo : (kaget) Apa kabar?

Bejo :  Baik!

Paijo : (Paijo memperhatikan baju Bejo) Wah, Bejo keren banget ya..!

Bejo : (kesal) Gila lo ya! Tampang keren gini masih aja lo panggil Bejo. Sudah ganti jadi Joe! Ingat itu! Mo kemana Pai?

Paijo : (malu-malu) Ke sekolah

Sumiati : (mencibir) Masih ngajar Pai?

Paijo : Iya.

Bejo : Masih betah hidup di desa? Memang gak punya rencana ke kota? Kayak kami ini! Emang lo gak ingin membahagiakan ibu dan diri sendiri dengan berlimpah materi? Jakarta adalah jawabannya!

Sumiati : betul tuh Pai! Gua heran, lo katanya pintar, tapi kenapa untuk pilihan yang satu ini bodoh banget! gua yakin dengan kepintaran yang lo miliki dalam beberapa bulan sudah dapat mengumpulkan uang banyak.

Paijo : (kepala tertunduk) Saya ingin...

Bejo : (menyela) Ya sudah! Ayo ke Jakarta! Apa butuh bantuan?

Paijo : (menghindar sambil melihat jam tangannya) Maaf, saya harus ke sekolah. Ntar terlambat!

Scene 3:
Narator : menjelaskan siapa tokoh Riandi.
Narrator 2        : Resah, gelisah, saat jiwa terpenjara di tempat yang tidak disukai, tempat yang tidak semestinya. Hasrat ingin segera pergi meninggalkan pegunungan nan asri, meninggalkan tawa riang anak-anak desa yang polos dan lugu. Namun apa daya, kaki sudah terantai pada secarik perjanjian, yang takkan bisa diubah.
(Riandi masuk kamar Paijo)
Riandi : (duduk di sisi tempat tidur Paijo) Lemes banget Pak!
Paijo : (membuka matanya dan duduk di tempat tidur) Eh, pak Riandi.
Riandi : (sedih) Waktu di desa terasa berjalan sangat lambat. Kalau tau jadi PNS gak enak kayak begini...saya nggak akan ambil. Lebih baik jadi guru ke rumah-rumah di Jakarta.
Paijo : (polos) Bukankah Bapak sudah melakukannya?
Riandi : Memang! Tapi, di desa bayarannya kecil. Pake singkong, pisang, ubi....sudah bosan! (diam sejenak sambil wajahnya mendongak ke atas) Coba kalau di Jakarta, sekali datang dibayar Rp 50000,- setiap hari bisa makan enak
(Paijo tersenyum getir)
Riandi : Paijo kamu pintar! Sayang, kalau kamu habiskan di desa terpencil ini! Saya yakin jika ke Jakarta, kamu bisa lebih hebat dari sekarang ini
(Paijo makin tertunduk dengan lesu lalu kembali tidur)
Scene 4:
Narator : menjelaskan tokoh Sri dan parinem.
Narrator 2        : Gadis-gadis muda, berkerumun bak kupu-kupu di taman bunga, penuh semangat, penuh gairah, di masa muda nan cemerlang, tak sabar ingin segera memenuhi pundi jiwa dengan ilmu. Mimpi dan asa berbaur. Tunas muda yang tengah merekah.
(Sri, dan Parinem masuk ke kamar Paijo)
Sri : (senyum) Siang Pak!
Paijo : (senyum terpaksa) Siang anak-anak!
Parinem : (mendekati Paijo) Para Guru mngatakan, “Bapak sakit”. Bener?
Paijo : (bingung) Ah, tidak!
Sri : (lega) Baguslah kalo Bapak baik-baik saja!
Parinem : Pak, kami boleh tanya sesuatu gak?
Paijo : (terpaksa senyum) Tentu saja boleh
Parinem : Bener gak sih Pak kalo hidup di Jakarta enak?
Sri : (manja, memegang lengan baju Paijo) Bener gak sih Pak? Setelah selesai sekolah, orang tua saya menyuruh saya ke Jakarta. Biar bisa bantu adik-adik. Maksudnya ibu, sekalian dapat jodoh orang kota gitu
parinem : (menepuk bahu Sri) Yang sopan bicaranya! Biarkan pak Paijo berbicara!
Paijo : (berusaha tersenyum) Tentu saja enak! Katanya, jadi pemulung saja bisa kaya.
Parinem : (penasaran) Trus kenapa Bapak masih di desa?
(Sri memukul tubuh Parinem)
Parinem : (kesal sambil mengelus-elus lengannya) Sakit!
                                   
Narator :  menjelaskan tentang kepala sekolah.
Narrator 2        : Persahabatan lama jadi jaminan, memberi pekerjaan bagi keturunan sang sahabat. Karena kasihan atau karena budi yang perlahan-lahan memudar seiring berlarinya waktu?
(Subroto masuk ke kamar Paijo)
Subroto : (penasaran) Ada apa ini?
(Sri, Parinem, dan Paijo terdiam)
(semua murid pergi tergesa-gesa)
Subroto : (merangkul pundak Paijo) Sudahlah jangan kamu dengarkan perkataan mereka. Omongan anak-anak! Tempatmu di sini! Membangun desa ini. Kamu tahu alasanku mempekerjakan kamu di sekolah ini meski kamu bukan lulusan pendidikan guru?
(Paijo terdiam sambil memandang Subroto dengan pandangan bingung)
Subroto : Bapakmu minta agar aku membantunya menjaga keluarganya. Ia ingin kamu tetap di desa. Menjaga ibumu...hanya kamu anak mereka.
Paijo : Tapi Bejo...
Subroto : Ah! Bejo memang susah di atur. Saya juga inginya ia jadi guru saja, tapi ... ia ingin ke Jakarta. Entah kerja apa di sana. Kalau di tanya selalu saja menghindar. (tertunduk sebentar) kamu dilahirkan untuk desa ini.
(Paijo kembali tidur di tempat tidurnya)
Scene 5:
 

Narator : menjelaskan tokoh Sulastri dan Aini.

Narrator 2        : Seiring dengan pertambahan usia dan berkurangnya bukan berarti kebijaksanaan dan pemahaman akan arti kehidupan juga semakin bertambah. Bukankah mereka yang pandai adalah mereka yang mengaku dirinya bodoh, daripada mereka yang mengaku pintar padahal sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa?

(Ponirah sedang ngobrol dengan Sulastri dan Aini, sedangkan Paijo memandangi mereka dari kejauhan)

Sulastri : Lagi sibuk Yu?

Ponirah : (mendongakkan wajah sambil tersenyum lebar) Eh, Yu Sulastri dan Yu Aini. Darimana mau kemana?

Aini : (mengeluarkan bungkusan) Saya ingin kasih ini. Oleh-oleh dari anak-anak saya.

Ponirah : (menerima) terima kasih! Sukses ya di Jakarta?

Aini : Alhamdulillah Yu! Bawa banyak barang-barang. Trus bisa kasih saya uang lagi.

Ponirah : (tersenyum) Wah, senang dong! Kerja apa di Jakarta?

Aini : (bingung) katanya bagian jasa.

Ponirah : (penasaran) Jasa apa?

Aini : Aduh! Saya lupa tanya. Pasti kerjaannya halal la! Kan sejak kecil diberi ilmu agama yang baik oleh bapaknya. Gak mungkin mereka terjerumus!

Ponirah: (kesal. Lalu mengalihkan ke Sulastri) Gimana kabar Bejo?

Sulastri : (tersenyum) Baik Yu! Sekarang dia sudah bisa membelikan saya motor.

Ponirah : (kesal) Mana motornya? Kok nggak dipakai?

Sulastri : (tersipu malu) Belum bisa naik motor. (sombong) Tapi, itu nggak penting Yu. Yang penting Bejo mampu belikan saya motor. Hebat ya anak saya?

Ponirah : (kesal) Iya, hebat!

Sulastri : Gimana kabar Paijo? Nggak ada niatan mengikuti jejak Bejo? Sayang kan wong lanang di rumah saja.

Ponirah : Dia temani saya di sini. Lagipula saya tidak ingin Paijo jadi orang yang berlebihan.

Sulastri : (bingung) Berlebihan? Maksud Yu?

Ponirah : Biasa, kalau baru pulang dari kota suka pake barang-barang mewah yang sebenarnya belum di butuhkan untuk kehidupan di desa. 

Sulastri : (kesal) Kalau kita punya kenapa nggak! Tapi... tujuan Bejo ke kota untuk belajar hidup mandiri.

Ponirah : Setahu saya mandiri seseorang nggak bisa dilihat dari keberadaan dia hidup, tapi apa yang dilakukan untuk hidup.

Aini : (tangan kiri memegang bahu kanan Sulastri dan tangan kanan memegang bahu Ponirah) Sudahlah! Tiap orang punya jalannya masing-masing. Nggak salah Bejo belajar mandiri di kota dan nggak salah juga Paijo tetap di desa.



Narrator 2        : Hari demi hari berwarna kelabu. Menahan kekesalan yang kian menggigit. Ingin rasanya memberontak, memalingkan jiwa rapuhnya ke dalam masa dan lembar-lembar kertas kehidupan yang kian menguning. Hati ini kian memberontak. Menggedor-gedor jiwa. Ingin keluar. Ingin menjerit. Melengking. Dan pergi. Sejauh mungkin. Meninggalkan tawa renyah dunia yang terdengar kian sengau dan sumbang. Kemanakah kan dibawa hati yang kian terpenjara?





BABAK III

Awal Paijo bertemu Retno hingga saling berkirim surat

Scene 1:

Narator : menjelaskan tokoh ustadz.

Narrator 1        : Bilakah  seorang guru, disebut guru, apabila ia dilebihkan sedikit ilmu, dilebihkan sedikit derajat, dilebihkan sedikit kedudukan, daripada hamba yang lain? Nikmatkah itu? Ataukah ujian?

(Ustadz masuk kamar ketika Paijo sedang bengong di atas tempat tidurnya)

Ustadz : (mendekati Paijo) Kamu kenapa? Bapak liat kamu murung terus!

Paijo : (tersenyum terpaksa) Ah, tidak ada apa-apa.

Ustadz : (penasaran) kamu bisa bohongi semua orang, tapi tidak saya. Ceritakanlah, siapa tahu saya bisa bantu.

(Paijo memandang ragu pada Ustadz)

Ustadz : (memaksa) Ngomong saja! Rahasia terjamin!

Paijo : (bingung) Pak, dimana kah seorang Pria seharusnya berada?

Ustadz : (bingung) Di depan! Menjadi pemimpin!

Paijo : (bingung) Lalu apa yang harus dipilih pemimpin itu jika dihadapkan dua pilihan. Nama baik atau bakti pada orang tua.

Ustadz : (bingung) Mmm...pilihan yang sulit. Kamu hanya perlu merenungkan. Saya yakin kamu bisa menemukan jawabannya. Mulai sekarang lebih dekatkan diri pada Allah. Jangan pernah tinggalkan sholat lima waktu! Pelajari Al Qur’an dan rajinlah bangun malam!

(azan)

Ustadz : (berdiri) Ayo kita Sholat! Sudah masuk waktu sholat!

Paijo : (menengadahkan wajahnya dengan raut bingung) Baik!

Scene 2:
(Monolog puisi – Paijo pulang dari musholla di senja hari. Berjalan termangu-mangu menuju telaga)
Paijo                : (bingung) Siapakah yang dapat mendengar teriakan jiwaku? Yang tengah menjerit-jerit di dalam ruang kalbuku? Kemanakah akan kubawa segala gundahku? Apakah dapat kutenggelamkan bersama sinar merah matahari? Jauh ke dalam telaga duka yang sunyi? Atau terbang dibawa angin yang bertiup dingin? Lepas… Bebas… Menjauh menuju senja???
(Paijo hendak menceburkan diri ke dalam telaga, tapi ia melihat Retno yang duduk di seberang telaga)
Paijo                : (penasaran) Siapakah dia? Apa yang ia pandang? Apakah ia terlena pada jernihnya air telaga duka ini? Telaga dukaku yang hendak menelan semua sepiku. Apakah ia sama kesepiannya seperti aku? Siapakah namanya? Dan kenapa ia duduk di sana? Di tepi telaga tanpa melakukan apa-apa? Hanya menatap senja yang kian memerah? Ya Tuhan, katakanlah padaku siapa dia?
Narator : Keesokan senja.
Narrator 1        :  Hari telah berganti. Waktu terus berdentang. Mengganti seribu kisah, memupus sejuta lara dan cairkan rindu yang kian membiru.
Paijo                : (Paijo kembali datang ke telaga itu, mengintip dari balik rumpun bambu dan alang-alang) Wahai telaga duka, tempatku meleburkan gelisah tanpa bekas, hanyut tersedot nyanyian kupu-kupu. Rasa ini telah berbunga. Bunga cinta yang mendatangkan pelangi berjuta rasa. Bongkahan penghapus segala lara di dalam jiwa. Engkau, engkau perempuan di seberang sana, engkau yang datang dan pergi bersama senja, kau warnai hatiku yang merana. Mengapa setiap sore engkau duduk di tepi telaga itu?
Scene 3:
Opening oleh monolog puisi Retno yang menanti Widodo dan monolog-monolog puisi Paijo yang jatuh cinta pada Retno yang membuat ia tiap sore ke telaga dan kemudian mereka saling berkirim surat
Retno               :  Senja ini, samakah seperti kemarin? Atau kemarinnya lagi? Atau kemarin dan kemarinnya lagi? Air di telaga ini masih jernih, alang-alang itu masih tumbuh di sekitar telaga, dan daun-daun kian berguguran, berserak di bawah kakiku yang tanpa alas. Kemanakah dapat kulabuhkan penantian ini? Bilakah alam berbaik hati membalikkan telapak tangannya untukku, memundurkan jarum jam hingga aku kembali ke masa itu? Masa-masa bahagia penuh cinta? Penuh senyum dan cahaya? Tahukah engkau, Kanda, aku masih di sini… Menunggu kedatanganmu di sini… Kebayaku sudah tidak putih lagi… Cokelat kini warnanya… Kain lurikku bukan lagi cokelat… Hitam kini warnanya…

Paijo menatap Retno dari balik alang-alang di seberang telaga duka
Paijo                : Perempuan…Siapakah engkau? Mengapa dengan menatap wajahmu yang cantik dibias merah senja, merekahkan segala rasa di dalam dada? Menghilangkan resah dan gelisah? Tuhan… sungguh aku tidak menyangka… Bertemu dengannya di sini, saat hatiku meniti tepian keputus-asaan, Kau lemparkan bingkisan kejutan ke dalam pangkuanku, Ya Tuhan… Manis… Semanis madu… Berbungkus merah dan berpita biru… Merdu… Semerdu nyanyian burung-burung hinggap di pundaknya… Mengapa tiap sore engkau selalu duduk di tepi telaga itu? Dengan apakah aku dapat mengetahui siapa dirimu?
Paijo memberanikan diri mengirim surat pada Retno, dilanjutkan dengan surat menyurat antara Paijo dan Retno
Surat Paijo 1:
Kepada engkau yang termenung di telaga ini, aku selalu melihatmu kala senja hari di sini. Yang membuat dirimu terlihat lebih indah dari semuanya. Kau bagai mentari senja nan indah, seindah sore ini. Aku ingin mengenalmu. Mengenal tawa dan senyummu. Kelakarmu, tangismu dan bahagiamu.
Duhai engkau, biarkan aku sedikit tahu banyak tentangmu. Sampai aku tak terbelenggu dengan rasa penasaranku. Tolong, janganbiarkan aku menunggu mengenalmu lebih lama lagi.
Ttd
Paijo
Surat Retno 1:
Siapakah engkau? Di manakah gerangan dirimu berada? Dari tepi telaga ini, aku tak dapat menangkap sosokmu. Betapa beruntungnya engkau masih bisa melihat indahnya mentari senja. Karena bagiku, langit senja ini semerah hatiku. Paijo... kau boleh panggil aku Retno...
Ttd
Retno
Surat Paijo 2:
Aku tahu kini, retno namamu. Nama itulah yang membuatku menjadi penasaran. Membuatku seolah tak ingin mengenal orang lain selain dirimu. Jika boleh aku tahu, mengapa kau selalu bersemayam di senja hari? Di mana kau saat mentari bersinar atau kala langit berselimut bintang? Aku ingin melihatmu di setiap waktuku jika aku bisa. Namun senja membatasiku. Retno, aku senang bisa berkenalan denganmu.
Ttd
 Paijo
 
Surat Retno 2:
Duhai Paijo... tahukah engkau? Senja ini adalah haribaanku. Telaga ini adalah altar atas dukaku. Mentari dan rembulan tak berarti lagi. Karena siang malamku tlah terkubur bersama asa. Dan engkau, Paijo, apa yang membuatmu datang ke telaga ini? Apa yang merunut langkahmu hingga terdampar di senja ini?
Ttd,
Retno
Surat Paijo 3:
Retno... Sebenarnya, aku memiliki sebuah keinginan. Hasratku untuk dapat terbang jauh dari sini. Bagai burung, aku ingin bebas. Ingin kulihat segala indahnya lintang dan bujur bumi. Ingin kujamah segala sakit yang mungkin ada di belahan kutub sana. Ingin kutorehkan sejarah hidupku pada delapan penjuru mata angin. Namun... Seseorang menentangku. Yang pada telapak kakiknya lah surgaku berada. Yang dengan darahnyalah aku hidup. Retno... Aku hanya ingin hidupku, apa itu salah? Bila hidupku bukan lagi milikku, lantas untuk apa lagi aku ada di dunia?
Surat Retno 3:
Jangan pernah berfikir seperti itu...bersabarlah, Paijo... Sabar itu adalah pelita hati, penghias akhlak dan penenang jiwa. Percayalah, buah kesabaran itu manis rasanya. Dan ingatlah selalu kepada Sang Maha Kasih. Karena Dia-lah kita bisa bertemu di sini, hanya melalui secarik kertas. Ikhlaslah dalam menjalani hari-harimu, Paijo...
Ttd
Retno
Surat Paijo 4:
Makasih Senja, atas nasehatmu. Itu menyegarkan otakku. Membangkitkan semangatku lagi. Betapa dalam hatimu, betapa luas pikiranmu. Betapa segalamu telah terbitkan rasa dalam relungku. Kini ia menganak sungai, beriak-riak di jiwaku. Tapi suka tak suka aku harus mengatakan ini padamu. Sujud ampunku di kakimu, atas kelancanganku memelihara rasa ini. Namun sungguh, aku tak sanggup lagi mendustai hati.
Ttd,
Paijo

BABAK IV
Surat-surat Paijo yang menumpuk, Paijo menanti-nanti Retno hingga Retno diketemukan dalam keadaan membusuk
Scene 1:
Surat-surat Paijo menumpuk, tidak dibalas lagi dan Retno menghilang dari telaga
Narrator 2        : Senja kian tua. Surat-surat penghantar cinta Paijo pada Retno kian menumpuk sampai ke bulan. Yang dipuja kini menghilang di dalam rindu yang tak terbilang…
(Monolog Paijo dalam puisi yang merasa kehilangan)
Paijo                : (duduk di atas batu dengan wajah putus asa)Kemanakah ia? Sakitkah? Atau marahkah ia setelah membaca surat terakhirku padanya? Sehingga ia tidak mau lagi berkirim surat denganku? Tahukah ia, betapa rinduku ini dapat mengalahkan tingginya ngarai di desa kita? Mengalahkan tingginya langit senja?  Mengalahkan tingginya mentari yang beranjak ke peraduannya? Mengalahkan jauhnya kerlip bintang-bintang? Dan mengalahkan dalamnya telaga duka ini? Tahukah ia, wajahnya bertaburan di dalam mimpiku? Di dalam anganku? Curahan hatiku yang mengerti jiwaku? Belahan jiwaku? Tahukah ia, aku merindukan melihatnya duduk, di sana, di tepi telaga itu, dengan kecipak kakinya di permukaan air, termenung di dalam kesunyian???
(Paijo pulang ke rumahnya dengan perasaan linglung dan langkah gontai)
   


Scene 2:

Paijo baru selesai shalat, minta petunjuk pada Allah (dengan nada marah) tentang keberadaan Retno – monolog puisi Paijo

Paijo                : (mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan wajah dengan raut memaksa)Ya Allah… Yang Maha Mengetahui apa-apa yang tersembunyi dan yang tidak tersembunyi, bagaimana dapat kulalui hari tanpanya? Tanpa dia yang menjadi tempat curahan hatiku? Bahagiaku? Cintaku? Mengapa ia menghilang begitu saja setelah membaca surat pernyataan rasaku padanya? Mengapa? Mengapa Ya Allah? Mengapa begitu banyak jawaban yang tidak terjawab? Mengapa Kau membiarkanku kebingungan dalam kerinduan yang kian menyesakkan ini? Mengapa Kau membiarkan aku tenggelam di dalam duka yang kian menyeretku ke dalam keputus asaan? Mengapa? Aku ingin jawaban-Mu, Ya Allah. Bukan pertanyaan. Jawaban. AKU INGIN JAWABAN. DI MANAKAH RETNO BERADA KINI? AKU INGIN JAWABAN-MU SEKARANG JUGA. SEKARANG!!!

(terdengar suara riuh di luar rumah Paijo dan derap langkah yang terburu-buru)

Scene 3:

(Ponirah ke luar rumah. Terbengong-bengong melihat keramaian)

Ponirah : (menarik tangan Bejo) Ada apa kok pada Melayu?

Bejo : (berhenti) Ada mayat wanita mengapung di telaga. Sudah bau dan membusuk!

(Bejo kembali dalam kerumunan dan Ponirah masuk ke dalam rumah)

Ponirah : (nafas terengah-engah) Paijo, ayo ke telaga. Kata orang ada mayat  wanita yang sudah bau dan membusuk.

(tanpa komentar Paijo langsung lari menuju telaga)

Paijo tidak dapat berkata-kata. Ia terlongong-longong menatap mayat Retno

Narrator 2        : Manusia… Yang selalu perlu waktu untuk memahami dan mengerti… hikmah di balik setiap peristiwa… yang tergurat di atas kanvas kehidupan dunia… bahwa kadang kala… segala sesuatunya tidak harus selalu membutuhkan jawaban… melainkan pemahaman …

Paijo                : Inikah jawaban-Mu untukku, Ya Allah???

(dengan terbata-bata)

********The End*********

Kamis, 17 Oktober 2013

"Only Hope"

Diposting oleh Unknown di 04.46 0 komentar
There's a song that's inside of my soul. 
It's the one that I've tried to write over and over again
I'm awake in the infinite cold. 
would you sing to me over and over again 
So, I lay my head back down. 
And I lift my hands and pray To be only yours, 
I pray, to be only yours  
I know now you're my only hope.
Sing to me the song of the stars. 
Of your galaxy dancing and laughing and laughing again. 
When it feels like my dreams are so far  
Sing to me of the plans that you have for me over again.
So I lay my head back down. 
And I lift my hands and pray To be only yours, 
I pray, to be only yours  
I know now, you're my only hope.

I give you my destiny.
I'm giving you all of me. 
I want your symphony, singing in all that I am  
At the top of my lungs, 
I'm giving it back.
So I lay my head back down.  
And I lift my hands and pray To be only yours, 
I pray, to be only yours 
I pray, to be only yours  
I know now you're my only hope 

 

Selasa, 15 Oktober 2013

Crush?? NO ! Please

Diposting oleh Unknown di 00.40 0 komentar
October,
At this month, my first breath
The beginning of my life
At this month, i found you
As someone who means everything for me
Please ! Don't crush my october !!

Jumat, 06 September 2013

Bukan kau !

Diposting oleh Unknown di 02.54 0 komentar
Aku merasa seperti sampah, yang kau pikir sudah tak berguna dan tak kau butuhkan lagi !
Tapi saat rasa sepi ini menghantuiku aku masih mencari sosokmu untuk temaniku. haha bodoh !

Kau mengingatkanku bagaimana rasanya sakit yang teramat sakit. lagi
Aku sudah melepaskanmu, lagi
Mungkin seperti janjimu, kau memang akan kembali. lagi
Tapi mungkin juga tak akan kembali padaku lagi


HEYY..! AKU SUDAH KAU BUANG !! :D
APA KAU AKAN KEMBALI UNTUK MEMUNGUTKU??
MENGAMBILKU, AKANKAH??
AKANKAH KAU AKAN MENYAYANGIKU LAGI????

Kau menunggu persetujuanku untuk menjalin hubungan dengan gadis lain. Aku sengaja tak menjawab dengan pasti pertanyaanmu. Aku tau, kita tak akan bisa bersatu saat ini, aku mengerti ! tapi yang aku mau bukan seperti ini untuk menyelesaikan masalah kita. Kau bilang, tak akan ada yang dirugikan. sadarkah?? Aku merasa kau rugikan ! merasa sangat tersakiti atas keinginanmu !semua kau lakukan hanya demi kepentinganmu sendiri kan? Egois ! jika kau memang menyayanginya, kau bisa terus terang padaku tanpa harus mengatasnamakan masalah kita ! bukan dengan menjadikan dia seakan jadi solusi masalah itu !


Sayang, apa kau sudah lupa rasanya sakit hati?? jika aku boleh mengingatkanmu, rasanya seperti saat kau ditusuk berkali-kali dengan pisau yang tak begitu tajam. sakitt, menyiksa !
Sayang, masalah hati bukan masalah yang bisa dengan mudah kau permainkan ! Bukan karena dia benar benar tulus mencintaimu, kau bisa perlakukan dia seakan hatinya terbuat dari baja ! seberapapun tulusnya ia padamu, Hati tetaplah hati. rapuh !
Sayang, apa kau lupa akan adanya karma??
Sayang, kau lupa bahwa cinta bukan sebuah permainan ! Sandiwara didunia ini bukan kau sutradaranya !

Kamis, 29 Agustus 2013

Menunggumu Selesai Memerankannya

Diposting oleh Unknown di 03.08 0 komentar


Luka yang dulu terbuka lebar sedikit demi sedikit mulai membaik. Namun belum kering sepenuhnya dan kau sudah mendorongku lagi. Aku jatuh ! luka itu kini menganga lebih  lebar dan terasa berlipat sakit yang ku rasakan.
Kau tau? Aku mulai percaya akan rasamu. Aku percaya ini cinta. Namun mungkin aku terlalu percaya diri. Mungkin aku terlalu bodoh. Mungkin aku salah mengartikannya. Harusnya aku sadar, terlalu tolol menganggap perhatianmu yang nyatanya tak hanya kau berikan padaku. Aku hanya pelarian ! persinggahanmu saat kau lelah. Dan bodohnya, aku benar-benar sangat mencintaimu. Orang yang nyatanya menaruh cintanya pada banyak hati.
Selama ini aku terus mencoba menutup telingaku dan berusaha tak mendengar semua kabar tentang keburukanmu. Aku terus mempercayai dan bertahan disini untukmu. Aku percaya bahwa kau memang benar sudah berubah. Tapi ternyata kau memang aktor cerdas ! apa kau tak sadar yang aku inginkan hanya sebuah penyatuan yang nyata, jelas. Realis!
Sering kau katakan bahwa rasamu dan rasaku adalah sama, Cinta. Cinta yang kau bilang begitu besar hingga mampu mempertemukan kita kembali dan membuat kita rela menunggu bahkan sampai kita benar-benar bersatu dalam ikatan cinta yang suci kelak nyatanya hanya cinta sepihak dan hanya aku yang benar-benar merasakan serta menjaga cinta tulus ini.
Apa kau tau? Rasa yang teramat sakit ini sangat sulit dijelaskan. Bahkan aku tak sanggup walau hanya untuk sekedar bicara denganmu melalui ponsel. Mulut ini seakan ingin bicara, memaki, teriak ! namun hanya bungkam yang dapat terungkapkan. Maafkan aku. Aku mengerti, hubungan ini tak berstatus nyata. Seharusnya aku tak berhak menuntut apapun darimu. Aku hanya perlu penjelasanmu ! oh iya, tak usah kau tanyakan lagi padaku tentang kelanjutan kisah ini. Aku sudah terlanjur mempercayakan hati ini sepenuhnya padamu. Aku akan menunggumu selesai memerankan tokoh seorang penyuka. Aku akan menunggumu sampai kau selesai mementaskannya.

Rabu, 03 Juli 2013

Selfish

Diposting oleh Unknown di 19.41 0 komentar
I can't lie to myself. I'm happy to see your smile.
But, i don't want you to be mine.
I promise to stop bother you.
Sorry, 
because I'm always shy when you ask about my feelings
I'm just afraid you'll tell me to forget you. 
I was so relieved when you said  
"selfish. I'm afraid you're loving everyone else."

Senin, 01 Juli 2013

Sahabat itu Selamanya

Diposting oleh Unknown di 01.37 0 komentar
Persahabatan tidak bisa terjalin begitu saja. Pasti ada proses yang menjadikan tali persahabatan itu nyata. Persahabatan pasti diwarnai bumbu2 suka dan duka. Dalam persahabatan kita pasti pernah dikecewakan-dimengerti, diabaikan-diperhatikan, dibantu-ditolak. Tapi semuanya tidak pernah disengaja dengan tujuan menyakiti. Sahabat akan mengatakan yang sebenarnya meskipun itu akan menyakitkanmu, karena dia ingin kamu jadi pribadi yang lebih baik.

Sahabat adalah mereka yang selalu ada saat semua orang pergi meninggalkanmu. Sahabat adalah mereka yang mampu mengeluarkan kemampuan terbaik dalam dirimu, mereka akan selalu menyemangatimu. Sahabat adalah mereka yang selalu menginginkan apa yang terbaik untukmu. Mereka akan menjadi Ayah untuk melindungimu, menjadi Ibu yang cerewet demi keberhasilanmu, mereka bisa jadi kakak bahkan adik. Mereka bisa jadi apapun.

Bagiku, sahabatku adalah segalaku. Mereka adalah tempatku berbagi cerita, berbagi cinta, tangis, bahagia.. Semuanya. Mereka lebih dari sekedar teman. Meskipun sekarang Jauh, bagiku mereka tetap dekat. mereka selalu ada dan melekat dihatiku.
 Sayaaaanggg mereka :*****

Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya. - See more at: http://unik-zona.blogspot.com/2013/04/ini-dia-makna-persahabatan.html#sthash.vVjyp22Z.dpuf

Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya. - See more at: http://unik-zona.blogspot.com/2013/04/ini-dia-makna-persahabatan.html#sthash.vVjyp22Z.dpuf
Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya. - See more at: http://unik-zona.blogspot.com/2013/04/ini-dia-makna-persahabatan.html#sthash.vVjyp22Z.dpuf
Semua orang pasti membutuhkan sahabat sejati, namun tidak semua orang berhasil mendapatkannya. Banyak pula orang yang telah menikmati indahnya persahabatan, namun ada juga yang begitu hancur karena dikhianati sahabatnya. - See more at: http://unik-zona.blogspot.com/2013/04/ini-dia-makna-persahabatan.html#sthash.vVjyp22Z.dpuf

Senin, 24 Juni 2013

PHP atau Terlalu berharap??

Diposting oleh Unknown di 02.44 0 komentar


PHP istilah yang lagi nge-trend banget dikalangan ABG2 jaman sekarang. Sebenernya apa sih PHP itu?. Hmmh.. PHP (Pemberi Harapan Palsu) menurut saya sih orang yang suka ngumbar2 janji/harapan2 tapi ga ada ujungnya gitu.
Meskipun sebagian orang bilang “PHP itu ga ada. Kamu aja yang terlalu berharap”. TAPI, saya masih beranggapan kalo tukang PHP itu emang nyata adanya. Okelah, emang ada yang terlalu berharap. Tapi gimana sama orang yang biasanya bilang, “aku sayang kamu” pakek emoticon :* segala? Orang yang biasanya rutin ngucapin “selamat malam”, “selamat pagi” dsb? Orang yang biasanya manggil kita dengan panggilan kesayangannya? Orang yang sok2 jealous kalo kita deket orang lain? Orang yang suka ngajak keluar berdua aja? TAPI tiba2 dia malah ngilang gitu aja? Dan tau2 udah jadian ama orang lain. Apa itu bukan PHP namanya????


Coba dipikir lagi deh kasus2 yang seperti itu. Siapa yang ga berharap kalo tindakan si PHP kayak gitu ke kita???
Kalau kamu emang ga ada niatan ngasih dia harapan, jangan bertindak seolah2 kamu ngasih ruang buat dia.! Terutama buat kaum adam ya(soalnya tersangka yang paling banyak cowo, meskipun cewe juga ada) ! okeh, maaf..terbawa emosi -__-
Tapi memang ada juga kasus yang si korban terlalu berharap. Padahal tersangkanya ga berniat ngasih harapan.
Yaah, PHP atau enggak itu mah tergantung dari sisi mana kita melihat. Kadang cerita antara si Korban sama si Tersangkanya juga beda. Kan Hakimnya juga jadi bingung :D haha
Intinya sih. Saya nitip pesen aja nih buat cowo2, kalo emang ga beneran cinta/sayang sama si cewe, jangan terlalu ngasih perhatian atau terlalu baik. Ntar malah di cap PHP. Juga buat kaum hawa jangan seneng dulu kalo ada cowo yang baik sama kamu, pastikan dulu. Dan jangan terlalu ngarep. Ntar ujung2nya malah sakit loh.sakitnya tuh disiniii *korbaniklan*

Minggu, 02 Juni 2013

MOLAN (Monumen Keadilan) dan RSM (Rumah Sakit Menyakitkan)

Diposting oleh Unknown di 22.04 3 komentar
yuhuuu..pas lagi iseng2 buka facebook, dapet undangan nih dari mas Pepeng 'Cuci Otak' buat nonton pementasan teater.
pertama liat langsung tertarik dan ngebet banget nonton nih pementasan. apalagi pas liat daftar nama orang2 yg terlibat dalam proses pementasan ini.. Kece2 bangeeett.. kayaknya bakalan jadi pementasan yang suppeerrr kereeennn :) wajib nonton !!

Pentas Pertama :13.00 - selesai
MOLAN (Monumen Keadilan)

Sinopsis : dua jabang bayi dan dipisah, slah satunya di buang dipasr dan tumbuh menjadi pencopet, dan satunya lgi menjadi pelacur karena perekonomian keluarganya minim, di jual oleh ibunya sendiri, namun waktu mempertemukan mereka berdua, bukan sebagai kakak beradik melainkan sebagi sepasang kekasih yg menginginkan untuk hidup bersama alias menikah. hanya ada satu yang bisa menjawab tak lain monumen keadilan.

Pentas Kedua :18.00 - Selesai RSM(Rumah Sakit menyakitkan)
Sinopsis :
pelayanan di rumah sakit yang telah lama pudar unsur sosial dalam setiap pelakunya, menganggap pasien sebagai boneka yang gampang sekali dibodohi dengan istilah2 medis yang sulit di mengerti, sehingga RS itu sendiri dijadikan sbg tmpt proyek besar2an dalam proses memperkaya diri, mulai dari diagnosis ekstrim tentang gejala penyakit dari si penderita hingga penjualan organ tubuh. kmudian muncul istilah dan yang pasti masyarakat kecil selalu jd korbannya "OJOK LORO TAMPA BIOYO"

dapatkan segera tiketnya :
*VIP : Rp. 15.000/tiket=1pementasan (+Perdana pulsa Rp.5.000 + Softdrink)
*Non VIP Rp. 10.000/tiket=1pementasan (Non Fasilitas)
contact person :
0852 587 11171 (Pepeng)
0852 5871 5939 (Jemmy)
0852 5871 5523 (Pras)

Perform Art : Akustik
Guest Start : GOTBESTTER PERCUSSIONS, JAMJENK

mari kita apresiasikan bersama, semoga realita ini mampu menjadi nilai tawar dan pecerdasan bagi semua pengunjung...

"Semoga Darah Seni Tetap Mengalir Tak Kan Berhenti Hingga Mengering Di Ujung Hati"

Naskah Asli Perempuan telaga duka

Diposting oleh Unknown di 21.28 1 komentar


Naskah pementasan Teater SENYAWA
(Jakarta - Bandung, 2-8 November 2007)
Diadaptasi dari cerita pendek karya Lian Kagura yang berjudul “Perempuan Telaga Duka”
Sutradara: Meiliana Komalarini
Casting   : Divisi Script & Casting Teater SENYAWA
Script Writer: Lia Octavia, Meiliana Komalarini, Lilyani Taurisia, Yanuardi
PEREMPUAN TELAGA DUKA
Character:
                                                                                                                                               
1)      Paijo: lugu, polos, sopan, pendiam, introvert, patuh pada ibu, suka memendam perasaan yang bergejolak, mengaji pada Ustadz Abdullah, pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, anak laki-laki satu-satunya
2)      Retno: periang, ceria, friendly, tergantung pada Widodo, tetapi berubah seratus delapan puluh derajat ketika Widodo menghilang; kosong, separuh jiwanya hilang, bengong, suka termenung-menung di tepi telaga
3)      Widodo: romantis, penyayang, care, sering menasehati Retno
4)      Ponirah: cerewet, bersuara keras, kata-kata yang menusuk, terlalu sayang pada Paijo, melarang Paijo pergi merantau
5)      Subroto: sahabat almarhum ayah Paijo, lulusan dari kota yang menjadi kepala sekolah, karena alm ayah Paijo sahabatnya, maka ia merekrut Paijo menjadi guru dengan pendidikan Paijo yang hanya setingkat SMA, mendukung Ponirah dengan alasan Paijo anak laki-laki satu-satunya yang harus menjaga ibunya
6)      Sulastri: cerewet, gemar ngerumpi, teman ngerumpi Ponirah, gemar membanggakan anaknya yang banyak uang setelah pergi merantau, mendorong Ponirah dengan sangat keras agar mengijinkan Paijo pergi merantau
7)      Bejo: teman Paijo dari kecil, bergaya norak ala kota, suka mengatakan hal-hal yang hiperbola, nyeleneh, senga, sok bergaya, kasar, suka menyakiti Paijo dengan kata-kata kasar, sombong
8)      Ustadz Abdullah: guru mengaji di musholla tempat biasa Paijo shalat, suka kotbah dan menceramahi serta menggurui, menjadi tempat curhat Paijo karena Paijo tidak punya orang yang dianggap pas sebagai tempat curhat
9)      Aini: tidak begitu cerewet, teman ngerumpi Ponirah & Sulastri, suka menceramahi teman-teman ngerumpinya karena ia sering mendengar ceramah suaminya, jadi ia hapal luar kepala, berusaha tidak memihak pada Ponirah atau Sulastri dan sangat membangga-banggakan suaminya yang seorang ustadz
10)   Sumiati: teman Paijo dari kecil, bergaya norak asal kota, sok, gaul, suka menggosip dan mengata-ngatai Paijo yang pendiam, ia merantau ke kota menjadi PSK di sana tanpa diketahui orang tuanya
11)  Riandi: seorang guru PNS yang sedang menjalani masa dinas 2 tahun di desa terpencil tempat tinggal Paijo, bete dan bosan dengan suasana desa, sering curhat tentang bete-nya pada Paijo, mendorong Paijo dengan halus agar merantau
12)  Sri: murid yang gaul, suka meminta perhatian Paijo dan suka bikin masalah di kelas (trouble maker)
13)  Parinem: murid Paijo yang ingin tahunya besar dan banyak bertanya hal-hal yang tidak perlu ditanyakan pada Paijo sehingga Paijo sering kehabisan kesabaran bila menghadapinya

BABAK I
Tentang Sepenggal Kisah Cinta Retno Sehingga Telaga Itu Terkenal Sebagai Telaga Duka
Scene 1:
(Narrator mendeskripsikan suasana di tepi telaga duka yang tenang dn hening. Hanya ada suara gemericik air dan kicau burung. Saat Retno dan Widodo biasa bertemu di sana)
Narrator 1        : Di punggung ngarai sebuah gunung, di mana burung-burung masih gemar bernyanyi, angin sejuk membelai dedaunan yang rimbun, hening, tenang. Hanya gemericik air yang jernih yang terdengar, terdapat sebuah telaga, dengan bebatuan dan rumput-rumput ilalang yang tumbuh di sekeliling tepiannya. Di bawah langit senja yang kian memerah
 (Dilanjutkan dengan dialog antara Retno & Widodo yang menggambarkan karakter Widodo yang romantis, penyayang, care dan sering menasehati Retno, sehingga Retno menjadi merasa tergantung padanya) – Dialog Widodo dan Retno dalam bentuk puisi
(Retno dan Widodo berdiri di pinggir telaga)
Widodo            : (tersenyum gembira) Duhai bidadariku, kau tampak cantik sekali sore ini. Siang, malam, bahkan mentaripun enggan beranjak ke peraduannya, ingin berlama-lama menatap wajahmu yang jelita dan anginpun ingin membelai rambutmu.
Retno               :  (tersenyum gembira) engkaupun terlihat gagah sore ini. Aku juga menantikan saat-saat berjumpa denganmu. Meniti hari, bersama menatap merahnya langit senja, disaksikan oleh nyanyian burung-burung dan sejuknya air telaga ini.
Widodo            : (bingung) Akupun demikian. Tetapi, mengapa matamu terlihat sembab? Apa yang terjadi? Apakah kau habis menangis?
Retno               : (tersipu malu) Ah Kakanda Widodo, aku menangis bukan karenamu. Tetapi karena begitu merindukanmu. Terutama di malam-malam dingin yang tak berawan, bintang enggan menari dengan rembulan. Aku sungguh kesepian tanpamu. Aku selalu teringat padamu. Aku ingin selalu bersamamu. Aku tak mau membagimu dengan seorangpun.
Widodo            : (memegang kedua bahu Retno) bersabarlah. Sabar itu adalah pelita hati, penghias akhlak dan penenang jiwa. Percayalah, buah kesabaran itu manis rasanya. Bukankah aku selalu datang menjumpaimu di sini? Dan ingatlah selalu pada Sang Maha Kasih, karena Ia-lah kita dapat selalu berjumpa di sini.
Retno               : Ya benar, Kau benar. Kau selalu benar. Tetapi aku seringkali ingin memutar dunia ini lebih cepat sehingga waktu berpacu mengalahkan segala rasa dan membawaku ke senja dimana aku dapat bertemu denganmu. Dan aku berharap waktu berhenti selamanya, saat aku bersamamu.
Widodo            : (tersenyum) Sabar dan ikhlaslah dalam menjalani hari. Ikhlas menunggu saat-saat bahagia kan menjelang. Berjanjilah padaku kau tak akan menangis lagi?
Retno               : (meletakkan tangan kanan di dada) Aku berjanji. Apapun yang kau katakan adalah titah bagiku.


Narrator 1        : Di atas bebatuan, di bawah pohon beranting dan berdaun lebat, bersama-sama menyaksikan ratu malam menurunkan tirai hitamnya, menutupi langit senja yang kian memudar bersama mentari.


 


Scene 2:
(Menceritakan tentang Widodo dan Retno yang berjanji untuk bertemu di telaga duka pada senja keesokan harinya.  – Dialog Widodo dan Retno dalam bentuk puisi
Widodo            : tak terasa sudah hampir seribu senja kita habiskan bersama di tepi telaga ini. Apakah kau tidak bosan duduk di sini bersamaku?
Retno               : (bingung) Bosan? Bagaimana mungkin aku bosan bila bersamamu? Lihatlah rumpun-rumpun bunga yang meliuk lembut ditiup angin, langit merah mengarak senja, burung-burung terbang rendah kembali ke sarangnya,  dan permukaan air telaga ini tampak begitu jernih dan tenang. Setenang hatiku bila bersamamu.
Widodo            : Lega hatiku mendengarnya. EmMm.. apakah engkau bersedia untuk menungguku di sini esok hari? Aku hendak membicarakan sesuatu yang sangat penting denganmu.
Retno               : (tersenyum penuh semangat)Tentu saja. Apapun yang kau katakan adalah titah bagiku. Aku akan menunggumu di sini, esok hari, kala cakrawala mulai membiaskan merah saganya, kala mentari mulai mengatupkan kelopak matanya, hingga Kanda datang menemuiku di sini.
Widodo            : (memohon) Dan maukah engkau berdandan yang paling cantik untukku? Aku sangat suka bila melihatmu mengenakan kebaya putih dan kain lurik cokelat, dengan gelang di pergelangan tanganmu. Dan aku sangat suka bila engkau mengurai rambut panjangmu yang hitam.
Retno               : (tersenyum penuh semangat) Tentu saja, Kanda. Apapun yang kau minta akan aku turuti. Kata-katamu adalah titah bagiku.
Widodo            : (serius) Dan kau menungguku di sini sampai aku datang?
Retno               : (sambil memandangi telaga) Aku akan selalu menunggumu disini. Hingga butir-butir pasir tidak lagi menyentuh pantai. (menghadap ke Widodo) Apa yang akan engkau bicarakan padaku?
Widodo            : Sabar. Tunggulah hingga esok senja menjelang. Kau akan mengetahuinya. Sesuatu hal yang akan mengubah masa depanmu untuk selamanya.

Scene 3: 
(Pada senja esok harinya, Retno datang ke telaga duka dengan berdandan rapi, menunggu kedatangan Widodo di tepi telaga, tetapi Widodo tidak datang-datang. Retno duduk di tepi telaga hingga malam tiba.
Retno               : (lelah) Duhai kakanda, dimanakah engkau berada sekarang? Aku sudah duduk menunggumu di sini, di tepi telaga ini. Aku menunggumu datang untuk mendengarmu mengatakan hal penting itu. Lihatlah, aku sudah mengenakan kebaya putih dan kain lurik cokelat kesukaanmu. Rambutkupun sudah tergerai mewangi, hingga kupu-kupu beterbangan dan kunang-kunang menari di sekitarku, dan senjapun tersenyum menatapku. Tetapi… engkau belum datang juga….
Narator1 : Senja esok harinya
Narrator 1        : Senja telah kembali memerah di ufuk barat, menyapa insan yang tengah menunggu cinta
Retno               : (duduk-berdiri-duduk di atas batu) Duhai Kanda … di manakah engkau berada? Mengapa hingga kini engkau tidak datang-datang juga? Kesalahan apa yang aku lakukan sehingga engkau tidak lagi datang menemuiku? Aku selalu menuruti kata-katamu. Kata-katamu adalah titah bagiku. Engkau berada di mana?
Narator 1 : Beberapa senja kemudian
Narrator 1        : Senja tak bosan-bosannya datang ke haribaan dunia. Entah kehadirannya diharapkan atau tidak, ia selalu setia menghampiri dan menyelimuti buana dengan selendang merahnya. Namun, bukan senja yang ditunggu, melainkan kedatangan cinta.
Retno               : (menangis sambil duduk di atas batu) Kanda… Engkau ada di mana sekarang? Aku begitu merindukanmu… Aku ingin bersamamu… mendengar suara lembutmu… melihat senyummu … Kemanakah engkau, Kanda??? Engkau ke manaaaa???
Narator 1: Beberapa senja kemudian
Narrator 1        : Senja kembali datang. Datang membawa asa. Pergi membawa rindu. Dan malam menghias dengan putus asa dan air mata.
Retno               : ( Retno duduk terbengong-bengong)  Kanda, sudah hampir seratus senja telah berlalu. Daun-daun menjadi kering dan berguguran ke tanah, nyanyian burung-burung terdengar serak, angin bertiup sangat dingin, membekukan hatiku, yang kian membiru, di dalam rindu. Dan telaga ini, Telaga Dukaku, menjadi saksi bisu, kerinduan hatiku, padamu … 
Narrator 1        : Sepi membalutnya dalam kesunyian yang abadi. Di dalam penantian yang tiada berujung. Sepi yang melebur dalam rindu. Rindu yang beku. Membekukan segala rasa, menghempaskan segala asa….
 


BABAK II

Tentang kehidupan Paijo sehingga ia ingin bunuh diri di telaga duka

Scene 1:

(Menceritakan mengenai kondisi psikologis Paijo yang mendapat tekanan dari lingkungannya) – Narrator dalam bentuk puisi

Narrator 2        : Di sisi lain ngarai itu, di punggung gunung yang sama, di bawah langit senja yang sama, laki-laki muda merajut hari, di dalam dunia yang jarang tersenyum padanya. Sepenuh hati menahan rasa, akan asa dan angan-angan yang terbuang. Akan mimpi yang tak pernah menjadi miliknya. Tak dapat banyak berharap. Dunia tidak memberi banyak tempat luang di dalam keberadaannya. Mengiris, menyayat perasaan. Hingga ia dekap segala luka yang bercucuran mengalir dari hati seputih kertas.

Narator: membuat puisi tentang tekanan-tekanan yang sangat menghimpitnya hingga terbawa tidur (belum dibuat)

Narrator 2        : tak kuasa hati menanggung, beban jiwa yang kian menghimpit. Hari-hari kering, bahkan mimpipun berbunga bangkai, terus mengejarnya hingga ke ujung waktu.

(Narator: menjelaskan siapa tokoh Ponirah)

Narrator 2        : Dalam hangatnya belaian dan kasih sayang ibu, tercurah pada permata hati satu-satunya, setelah belahan jiwa telah lama berpulang pada Sang Cinta. Mendekap erat buah hati, walau kadang ia lupa, buah hati tercinta telah beranjak dewasa. Cinta seorang ibu, yang mengalahkan dalamnya samudera, luasnya jagad raya dan tingginya cakrawala.

Ponirah : (menyiapkan sarapan) Le! Ayo sarapan!

Paijo     : (langkah tak bersemangat menuju meja makan sambil membawa tas kerjanya) Bu, saya    ingin ke kota. Ingin mengadu nasib. Siapa tahu hidup kita bisa lebih baik. Lihat teman-teman SMA-ku. Mereka sudah bisa mengangkat kehidupan keluarganya.

Ponirah : (sambil duduk) Le, bukan ibu nggak kasih. Ibu hargai niat baikmu...,tapi ibu nggak ingin kamu seperti Bejo, atau Sumiati. Gaya mereka berlebihan.

Paijo     : (menggaruk kepala yang tidak gatal)Tapi Bu...

Ponirah : (meletakkan gelas di meja)Sudahlah! kowe tega meninggalkan ibu sendiri di desa?

Paijo     : (memohon) Bukan begitu Bu...

Ponirah : (marah)Ya sudah di desa saja! Tugasmu banyak di desa ini! Menjaga ibu untuk ayahmu! Membalas budi baik pak Subroto yang telah memberimu pekerjaan di sekolahnya Meningkatkan kecerdasan anak-anak di desa ini! Membangun desa ini!

(Paijo kembali posisi tidur)

Scene 2:

Narator: mejelaskan siapa tokoh Bejo, dan Sumiati.

Narrator 2        : Sahabat, apakah Sahabat yang dulunya pernah mewarnai jalan bersama-sama, tertawa dan menangis bersama, tetapi setelah pernah terpisah jarak dan waktu, seakan menjadi orang asing yang tak bisa dikenali lagi

(Bejo, dan Sumiati bertemu di jalan besar)

Bejo     : Cie...sumi, ponsel baru nih!

Sumiati : (memainkan ponsel di depan wajahnya) Tentu saja baru! Hidup gua kan makmur. Bentar-bentar! Lo panggil gua apa?sumi! Kampung banget! Nama gua sudah ganti!

Bejo : Maaf deh!

Sumiati : huh.. Lo pikir? Kalo pekerjaan gua pembantu, gak ganti nama sih pantas!

Bejo : Trus apa?

Sumiati : (kesal) Panggil gua Mita! Ingat baik-baik di otak lo yang paling waras!

Jangan sampai...

(Paijo menuju sekolah sambil membawa tas dan bertemu mereka bertiga di tengah perjalanannya)

Paijo : (kaget) Apa kabar?

Bejo :  Baik!

Paijo : (Paijo memperhatikan baju Bejo) Wah, Bejo keren banget ya..!

Bejo : (kesal) Gila lo ya! Tampang keren gini masih aja lo panggil Bejo. Sudah ganti jadi Joe! Ingat itu! Mo kemana Pai?

Paijo : (malu-malu) Ke sekolah

Sumiati : (mencibir) Masih ngajar Pai?

Paijo : Iya.

Bejo : Masih betah hidup di desa? Memang gak punya rencana ke kota? Kayak kami ini! Emang lo gak ingin membahagiakan ibu dan diri sendiri dengan berlimpah materi? Jakarta adalah jawabannya!

Sumiati : betul tuh Pai! Gua heran, lo katanya pintar, tapi kenapa untuk pilihan yang satu ini bodoh banget! gua yakin dengan kepintaran yang lo miliki dalam beberapa bulan sudah dapat mengumpulkan uang banyak.

Paijo : (kepala tertunduk) Saya ingin...

Bejo : (menyela) Ya sudah! Ayo ke Jakarta! Apa butuh bantuan?

Paijo : (menghindar sambil melihat jam tangannya) Maaf, saya harus ke sekolah. Ntar terlambat!

Scene 3:
Narator : menjelaskan siapa tokoh Riandi.
Narrator 2        : Resah, gelisah, saat jiwa terpenjara di tempat yang tidak disukai, tempat yang tidak semestinya. Hasrat ingin segera pergi meninggalkan pegunungan nan asri, meninggalkan tawa riang anak-anak desa yang polos dan lugu. Namun apa daya, kaki sudah terantai pada secarik perjanjian, yang takkan bisa diubah.
(Riandi masuk kamar Paijo)
Riandi : (duduk di sisi tempat tidur Paijo) Lemes banget Pak!
Paijo : (membuka matanya dan duduk di tempat tidur) Eh, pak Riandi.
Riandi : (sedih) Waktu di desa terasa berjalan sangat lambat. Kalau tau jadi PNS gak enak kayak begini...saya nggak akan ambil. Lebih baik jadi guru ke rumah-rumah di Jakarta.
Paijo : (polos) Bukankah Bapak sudah melakukannya?
Riandi : Memang! Tapi, di desa bayarannya kecil. Pake singkong, pisang, ubi....sudah bosan! (diam sejenak sambil wajahnya mendongak ke atas) Coba kalau di Jakarta, sekali datang dibayar Rp 50000,- setiap hari bisa makan enak
(Paijo tersenyum getir)
Riandi : Paijo kamu pintar! Sayang, kalau kamu habiskan di desa terpencil ini! Saya yakin jika ke Jakarta, kamu bisa lebih hebat dari sekarang ini
(Paijo makin tertunduk dengan lesu lalu kembali tidur)
Scene 4:
Narator : menjelaskan tokoh Sri dan parinem.
Narrator 2        : Gadis-gadis muda, berkerumun bak kupu-kupu di taman bunga, penuh semangat, penuh gairah, di masa muda nan cemerlang, tak sabar ingin segera memenuhi pundi jiwa dengan ilmu. Mimpi dan asa berbaur. Tunas muda yang tengah merekah.
(Sri, dan Parinem masuk ke kamar Paijo)
Sri : (senyum) Siang Pak!
Paijo : (senyum terpaksa) Siang anak-anak!
Parinem : (mendekati Paijo) Para Guru mngatakan, “Bapak sakit”. Bener?
Paijo : (bingung) Ah, tidak!
Sri : (lega) Baguslah kalo Bapak baik-baik saja!
Parinem : Pak, kami boleh tanya sesuatu gak?
Paijo : (terpaksa senyum) Tentu saja boleh
Parinem : Bener gak sih Pak kalo hidup di Jakarta enak?
Sri : (manja, memegang lengan baju Paijo) Bener gak sih Pak? Setelah selesai sekolah, orang tua saya menyuruh saya ke Jakarta. Biar bisa bantu adik-adik. Maksudnya ibu, sekalian dapat jodoh orang kota gitu
parinem : (menepuk bahu Sri) Yang sopan bicaranya! Biarkan pak Paijo berbicara!
Paijo : (berusaha tersenyum) Tentu saja enak! Katanya, jadi pemulung saja bisa kaya.
Parinem : (penasaran) Trus kenapa Bapak masih di desa?
(Sri memukul tubuh Parinem)
Parinem : (kesal sambil mengelus-elus lengannya) Sakit!
                                   
Narator :  menjelaskan tentang kepala sekolah.
Narrator 2        : Persahabatan lama jadi jaminan, memberi pekerjaan bagi keturunan sang sahabat. Karena kasihan atau karena budi yang perlahan-lahan memudar seiring berlarinya waktu?
(Subroto masuk ke kamar Paijo)
Subroto : (penasaran) Ada apa ini?
(Sri, Parinem, dan Paijo terdiam)
(semua murid pergi tergesa-gesa)
Subroto : (merangkul pundak Paijo) Sudahlah jangan kamu dengarkan perkataan mereka. Omongan anak-anak! Tempatmu di sini! Membangun desa ini. Kamu tahu alasanku mempekerjakan kamu di sekolah ini meski kamu bukan lulusan pendidikan guru?
(Paijo terdiam sambil memandang Subroto dengan pandangan bingung)
Subroto : Bapakmu minta agar aku membantunya menjaga keluarganya. Ia ingin kamu tetap di desa. Menjaga ibumu...hanya kamu anak mereka.
Paijo : Tapi Bejo...
Subroto : Ah! Bejo memang susah di atur. Saya juga inginya ia jadi guru saja, tapi ... ia ingin ke Jakarta. Entah kerja apa di sana. Kalau di tanya selalu saja menghindar. (tertunduk sebentar) kamu dilahirkan untuk desa ini.
(Paijo kembali tidur di tempat tidurnya)
Scene 5:
 

Narator : menjelaskan tokoh Sulastri dan Aini.

Narrator 2        : Seiring dengan pertambahan usia dan berkurangnya bukan berarti kebijaksanaan dan pemahaman akan arti kehidupan juga semakin bertambah. Bukankah mereka yang pandai adalah mereka yang mengaku dirinya bodoh, daripada mereka yang mengaku pintar padahal sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa?

(Ponirah sedang ngobrol dengan Sulastri dan Aini, sedangkan Paijo memandangi mereka dari kejauhan)

Sulastri : Lagi sibuk Yu?

Ponirah : (mendongakkan wajah sambil tersenyum lebar) Eh, Yu Sulastri dan Yu Aini. Darimana mau kemana?

Aini : (mengeluarkan bungkusan) Saya ingin kasih ini. Oleh-oleh dari anak-anak saya.

Ponirah : (menerima) terima kasih! Sukses ya di Jakarta?

Aini : Alhamdulillah Yu! Bawa banyak barang-barang. Trus bisa kasih saya uang lagi.

Ponirah : (tersenyum) Wah, senang dong! Kerja apa di Jakarta?

Aini : (bingung) katanya bagian jasa.

Ponirah : (penasaran) Jasa apa?

Aini : Aduh! Saya lupa tanya. Pasti kerjaannya halal la! Kan sejak kecil diberi ilmu agama yang baik oleh bapaknya. Gak mungkin mereka terjerumus!

Ponirah: (kesal. Lalu mengalihkan ke Sulastri) Gimana kabar Bejo?

Sulastri : (tersenyum) Baik Yu! Sekarang dia sudah bisa membelikan saya motor.

Ponirah : (kesal) Mana motornya? Kok nggak dipakai?

Sulastri : (tersipu malu) Belum bisa naik motor. (sombong) Tapi, itu nggak penting Yu. Yang penting Bejo mampu belikan saya motor. Hebat ya anak saya?

Ponirah : (kesal) Iya, hebat!

Sulastri : Gimana kabar Paijo? Nggak ada niatan mengikuti jejak Bejo? Sayang kan wong lanang di rumah saja.

Ponirah : Dia temani saya di sini. Lagipula saya tidak ingin Paijo jadi orang yang berlebihan.

Sulastri : (bingung) Berlebihan? Maksud Yu?

Ponirah : Biasa, kalau baru pulang dari kota suka pake barang-barang mewah yang sebenarnya belum di butuhkan untuk kehidupan di desa. 

Sulastri : (kesal) Kalau kita punya kenapa nggak! Tapi... tujuan Bejo ke kota untuk belajar hidup mandiri.

Ponirah : Setahu saya mandiri seseorang nggak bisa dilihat dari keberadaan dia hidup, tapi apa yang dilakukan untuk hidup.

Aini : (tangan kiri memegang bahu kanan Sulastri dan tangan kanan memegang bahu Ponirah) Sudahlah! Tiap orang punya jalannya masing-masing. Nggak salah Bejo belajar mandiri di kota dan nggak salah juga Paijo tetap di desa.



Narrator 2        : Hari demi hari berwarna kelabu. Menahan kekesalan yang kian menggigit. Ingin rasanya memberontak, memalingkan jiwa rapuhnya ke dalam masa dan lembar-lembar kertas kehidupan yang kian menguning. Hati ini kian memberontak. Menggedor-gedor jiwa. Ingin keluar. Ingin menjerit. Melengking. Dan pergi. Sejauh mungkin. Meninggalkan tawa renyah dunia yang terdengar kian sengau dan sumbang. Kemanakah kan dibawa hati yang kian terpenjara?





BABAK III

Awal Paijo bertemu Retno hingga saling berkirim surat

Scene 1:

Narator : menjelaskan tokoh ustadz.

Narrator 1        : Bilakah  seorang guru, disebut guru, apabila ia dilebihkan sedikit ilmu, dilebihkan sedikit derajat, dilebihkan sedikit kedudukan, daripada hamba yang lain? Nikmatkah itu? Ataukah ujian?

(Ustadz masuk kamar ketika Paijo sedang bengong di atas tempat tidurnya)

Ustadz : (mendekati Paijo) Kamu kenapa? Bapak liat kamu murung terus!

Paijo : (tersenyum terpaksa) Ah, tidak ada apa-apa.

Ustadz : (penasaran) kamu bisa bohongi semua orang, tapi tidak saya. Ceritakanlah, siapa tahu saya bisa bantu.

(Paijo memandang ragu pada Ustadz)

Ustadz : (memaksa) Ngomong saja! Rahasia terjamin!

Paijo : (bingung) Pak, dimana kah seorang Pria seharusnya berada?

Ustadz : (bingung) Di depan! Menjadi pemimpin!

Paijo : (bingung) Lalu apa yang harus dipilih pemimpin itu jika dihadapkan dua pilihan. Nama baik atau bakti pada orang tua.

Ustadz : (bingung) Mmm...pilihan yang sulit. Kamu hanya perlu merenungkan. Saya yakin kamu bisa menemukan jawabannya. Mulai sekarang lebih dekatkan diri pada Allah. Jangan pernah tinggalkan sholat lima waktu! Pelajari Al Qur’an dan rajinlah bangun malam!

(azan)

Ustadz : (berdiri) Ayo kita Sholat! Sudah masuk waktu sholat!

Paijo : (menengadahkan wajahnya dengan raut bingung) Baik!

Scene 2:
(Monolog puisi – Paijo pulang dari musholla di senja hari. Berjalan termangu-mangu menuju telaga)
Paijo                : (bingung) Siapakah yang dapat mendengar teriakan jiwaku? Yang tengah menjerit-jerit di dalam ruang kalbuku? Kemanakah akan kubawa segala gundahku? Apakah dapat kutenggelamkan bersama sinar merah matahari? Jauh ke dalam telaga duka yang sunyi? Atau terbang dibawa angin yang bertiup dingin? Lepas… Bebas… Menjauh menuju senja???
(Paijo hendak menceburkan diri ke dalam telaga, tapi ia melihat Retno yang duduk di seberang telaga)
Paijo                : (penasaran) Siapakah dia? Apa yang ia pandang? Apakah ia terlena pada jernihnya air telaga duka ini? Telaga dukaku yang hendak menelan semua sepiku. Apakah ia sama kesepiannya seperti aku? Siapakah namanya? Dan kenapa ia duduk di sana? Di tepi telaga tanpa melakukan apa-apa? Hanya menatap senja yang kian memerah? Ya Tuhan, katakanlah padaku siapa dia?
Narator : Keesokan senja.
Narrator 1        :  Hari telah berganti. Waktu terus berdentang. Mengganti seribu kisah, memupus sejuta lara dan cairkan rindu yang kian membiru.
Paijo                : (Paijo kembali datang ke telaga itu, mengintip dari balik rumpun bambu dan alang-alang) Wahai telaga duka, tempatku meleburkan gelisah tanpa bekas, hanyut tersedot nyanyian kupu-kupu. Rasa ini telah berbunga. Bunga cinta yang mendatangkan pelangi berjuta rasa. Bongkahan penghapus segala lara di dalam jiwa. Engkau, engkau perempuan di seberang sana, engkau yang datang dan pergi bersama senja, kau warnai hatiku yang merana. Mengapa setiap sore engkau duduk di tepi telaga itu?
Scene 3:
Opening oleh monolog puisi Retno yang menanti Widodo dan monolog-monolog puisi Paijo yang jatuh cinta pada Retno yang membuat ia tiap sore ke telaga dan kemudian mereka saling berkirim surat
Retno               :  Senja ini, samakah seperti kemarin? Atau kemarinnya lagi? Atau kemarin dan kemarinnya lagi? Air di telaga ini masih jernih, alang-alang itu masih tumbuh di sekitar telaga, dan daun-daun kian berguguran, berserak di bawah kakiku yang tanpa alas. Kemanakah dapat kulabuhkan penantian ini? Bilakah alam berbaik hati membalikkan telapak tangannya untukku, memundurkan jarum jam hingga aku kembali ke masa itu? Masa-masa bahagia penuh cinta? Penuh senyum dan cahaya? Tahukah engkau, Kanda, aku masih di sini… Menunggu kedatanganmu di sini… Kebayaku sudah tidak putih lagi… Cokelat kini warnanya… Kain lurikku bukan lagi cokelat… Hitam kini warnanya…

Paijo menatap Retno dari balik alang-alang di seberang telaga duka
Paijo                : Perempuan…Siapakah engkau? Mengapa dengan menatap wajahmu yang cantik dibias merah senja, merekahkan segala rasa di dalam dada? Menghilangkan resah dan gelisah? Tuhan… sungguh aku tidak menyangka… Bertemu dengannya di sini, saat hatiku meniti tepian keputus-asaan, Kau lemparkan bingkisan kejutan ke dalam pangkuanku, Ya Tuhan… Manis… Semanis madu… Berbungkus merah dan berpita biru… Merdu… Semerdu nyanyian burung-burung hinggap di pundaknya… Mengapa tiap sore engkau selalu duduk di tepi telaga itu? Dengan apakah aku dapat mengetahui siapa dirimu?
Paijo memberanikan diri mengirim surat pada Retno, dilanjutkan dengan surat menyurat antara Paijo dan Retno
Surat Paijo 1:
Kepada engkau yang termenung di telaga ini, aku selalu melihatmu kala senja hari di sini. Yang membuat dirimu terlihat lebih indah dari semuanya. Kau bagai mentari senja nan indah, seindah sore ini. Aku ingin mengenalmu. Mengenal tawa dan senyummu. Kelakarmu, tangismu dan bahagiamu.
Duhai engkau, biarkan aku sedikit tahu banyak tentangmu. Sampai aku tak terbelenggu dengan rasa penasaranku. Tolong, janganbiarkan aku menunggu mengenalmu lebih lama lagi.
Ttd
Paijo
Surat Retno 1:
Siapakah engkau? Di manakah gerangan dirimu berada? Dari tepi telaga ini, aku tak dapat menangkap sosokmu. Betapa beruntungnya engkau masih bisa melihat indahnya mentari senja. Karena bagiku, langit senja ini semerah hatiku. Paijo... kau boleh panggil aku Retno...
Ttd
Retno
Surat Paijo 2:
Aku tahu kini, retno namamu. Nama itulah yang membuatku menjadi penasaran. Membuatku seolah tak ingin mengenal orang lain selain dirimu. Jika boleh aku tahu, mengapa kau selalu bersemayam di senja hari? Di mana kau saat mentari bersinar atau kala langit berselimut bintang? Aku ingin melihatmu di setiap waktuku jika aku bisa. Namun senja membatasiku. Retno, aku senang bisa berkenalan denganmu.
Ttd
 Paijo
 
Surat Retno 2:
Duhai Paijo... tahukah engkau? Senja ini adalah haribaanku. Telaga ini adalah altar atas dukaku. Mentari dan rembulan tak berarti lagi. Karena siang malamku tlah terkubur bersama asa. Dan engkau, Paijo, apa yang membuatmu datang ke telaga ini? Apa yang merunut langkahmu hingga terdampar di senja ini?
Ttd,
Retno
Surat Paijo 3:
Retno... Sebenarnya, aku memiliki sebuah keinginan. Hasratku untuk dapat terbang jauh dari sini. Bagai burung, aku ingin bebas. Ingin kulihat segala indahnya lintang dan bujur bumi. Ingin kujamah segala sakit yang mungkin ada di belahan kutub sana. Ingin kutorehkan sejarah hidupku pada delapan penjuru mata angin. Namun... Seseorang menentangku. Yang pada telapak kakiknya lah surgaku berada. Yang dengan darahnyalah aku hidup. Retno... Aku hanya ingin hidupku, apa itu salah? Bila hidupku bukan lagi milikku, lantas untuk apa lagi aku ada di dunia?
Surat Retno 3:
Jangan pernah berfikir seperti itu...bersabarlah, Paijo... Sabar itu adalah pelita hati, penghias akhlak dan penenang jiwa. Percayalah, buah kesabaran itu manis rasanya. Dan ingatlah selalu kepada Sang Maha Kasih. Karena Dia-lah kita bisa bertemu di sini, hanya melalui secarik kertas. Ikhlaslah dalam menjalani hari-harimu, Paijo...
Ttd
Retno
Surat Paijo 4:
Makasih Senja, atas nasehatmu. Itu menyegarkan otakku. Membangkitkan semangatku lagi. Betapa dalam hatimu, betapa luas pikiranmu. Betapa segalamu telah terbitkan rasa dalam relungku. Kini ia menganak sungai, beriak-riak di jiwaku. Tapi suka tak suka aku harus mengatakan ini padamu. Sujud ampunku di kakimu, atas kelancanganku memelihara rasa ini. Namun sungguh, aku tak sanggup lagi mendustai hati.
Ttd,
Paijo

BABAK IV
Surat-surat Paijo yang menumpuk, Paijo menanti-nanti Retno hingga Retno diketemukan dalam keadaan membusuk
Scene 1:
Surat-surat Paijo menumpuk, tidak dibalas lagi dan Retno menghilang dari telaga
Narrator 2        : Senja kian tua. Surat-surat penghantar cinta Paijo pada Retno kian menumpuk sampai ke bulan. Yang dipuja kini menghilang di dalam rindu yang tak terbilang…
(Monolog Paijo dalam puisi yang merasa kehilangan)
Paijo                : (duduk di atas batu dengan wajah putus asa)Kemanakah ia? Sakitkah? Atau marahkah ia setelah membaca surat terakhirku padanya? Sehingga ia tidak mau lagi berkirim surat denganku? Tahukah ia, betapa rinduku ini dapat mengalahkan tingginya ngarai di desa kita? Mengalahkan tingginya langit senja?  Mengalahkan tingginya mentari yang beranjak ke peraduannya? Mengalahkan jauhnya kerlip bintang-bintang? Dan mengalahkan dalamnya telaga duka ini? Tahukah ia, wajahnya bertaburan di dalam mimpiku? Di dalam anganku? Curahan hatiku yang mengerti jiwaku? Belahan jiwaku? Tahukah ia, aku merindukan melihatnya duduk, di sana, di tepi telaga itu, dengan kecipak kakinya di permukaan air, termenung di dalam kesunyian???
(Paijo pulang ke rumahnya dengan perasaan linglung dan langkah gontai)
   


Scene 2:

Paijo baru selesai shalat, minta petunjuk pada Allah (dengan nada marah) tentang keberadaan Retno – monolog puisi Paijo

Paijo                : (mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan wajah dengan raut memaksa)Ya Allah… Yang Maha Mengetahui apa-apa yang tersembunyi dan yang tidak tersembunyi, bagaimana dapat kulalui hari tanpanya? Tanpa dia yang menjadi tempat curahan hatiku? Bahagiaku? Cintaku? Mengapa ia menghilang begitu saja setelah membaca surat pernyataan rasaku padanya? Mengapa? Mengapa Ya Allah? Mengapa begitu banyak jawaban yang tidak terjawab? Mengapa Kau membiarkanku kebingungan dalam kerinduan yang kian menyesakkan ini? Mengapa Kau membiarkan aku tenggelam di dalam duka yang kian menyeretku ke dalam keputus asaan? Mengapa? Aku ingin jawaban-Mu, Ya Allah. Bukan pertanyaan. Jawaban. AKU INGIN JAWABAN. DI MANAKAH RETNO BERADA KINI? AKU INGIN JAWABAN-MU SEKARANG JUGA. SEKARANG!!!

(terdengar suara riuh di luar rumah Paijo dan derap langkah yang terburu-buru)

Scene 3:

(Ponirah ke luar rumah. Terbengong-bengong melihat keramaian)

Ponirah : (menarik tangan Bejo) Ada apa kok pada Melayu?

Bejo : (berhenti) Ada mayat wanita mengapung di telaga. Sudah bau dan membusuk!

(Bejo kembali dalam kerumunan dan Ponirah masuk ke dalam rumah)

Ponirah : (nafas terengah-engah) Paijo, ayo ke telaga. Kata orang ada mayat  wanita yang sudah bau dan membusuk.

(tanpa komentar Paijo langsung lari menuju telaga)

Paijo tidak dapat berkata-kata. Ia terlongong-longong menatap mayat Retno

Narrator 2        : Manusia… Yang selalu perlu waktu untuk memahami dan mengerti… hikmah di balik setiap peristiwa… yang tergurat di atas kanvas kehidupan dunia… bahwa kadang kala… segala sesuatunya tidak harus selalu membutuhkan jawaban… melainkan pemahaman …

Paijo                : Inikah jawaban-Mu untukku, Ya Allah???

(dengan terbata-bata)

********The End*********
 

Pelangi KITA Copyright © 2010 Design by Ipietoon Blogger Template Graphic from Enakei