Scene 3:
Narator : menjelaskan siapa tokoh Riandi.
Narrator 2 : Resah, gelisah, saat jiwa terpenjara di tempat yang tidak disukai, tempat yang tidak semestinya. Hasrat ingin segera pergi meninggalkan pegunungan nan asri, meninggalkan tawa riang anak-anak desa yang polos dan lugu. Namun apa daya, kaki sudah terantai pada secarik perjanjian, yang takkan bisa diubah.
(Riandi masuk kamar Paijo)
Riandi : (duduk di sisi tempat tidur Paijo) Lemes banget Pak!
Paijo : (membuka matanya dan duduk di tempat tidur) Eh, pak Riandi.
Riandi : (sedih) Waktu di desa terasa berjalan sangat lambat. Kalau tau jadi PNS gak enak kayak begini...saya nggak akan ambil. Lebih baik jadi guru ke rumah-rumah di Jakarta.
Paijo : (polos) Bukankah Bapak sudah melakukannya?
Riandi : Memang! Tapi, di desa bayarannya kecil. Pake singkong, pisang, ubi....sudah bosan! (diam sejenak sambil wajahnya mendongak ke atas) Coba kalau di Jakarta, sekali datang dibayar Rp 50000,- setiap hari bisa makan enak
(Paijo tersenyum getir)
Riandi : Paijo kamu pintar! Sayang, kalau kamu habiskan di desa terpencil ini! Saya yakin jika ke Jakarta, kamu bisa lebih hebat dari sekarang ini
(Paijo makin tertunduk dengan lesu lalu kembali tidur)
Scene 4:
Narator : menjelaskan tokoh Sri dan parinem.
Narrator 2 : Gadis-gadis muda, berkerumun bak kupu-kupu di taman bunga, penuh semangat, penuh gairah, di masa muda nan cemerlang, tak sabar ingin segera memenuhi pundi jiwa dengan ilmu. Mimpi dan asa berbaur. Tunas muda yang tengah merekah.
(Sri, dan Parinem masuk ke kamar Paijo)
Sri : (senyum) Siang Pak!
Paijo : (senyum terpaksa) Siang anak-anak!
Parinem : (mendekati Paijo) Para Guru mngatakan, “Bapak sakit”. Bener?
Paijo : (bingung) Ah, tidak!
Sri : (lega) Baguslah kalo Bapak baik-baik saja!
Parinem : Pak, kami boleh tanya sesuatu gak?
Paijo : (terpaksa senyum) Tentu saja boleh
Parinem : Bener gak sih Pak kalo hidup di Jakarta enak?
Sri : (manja, memegang lengan baju Paijo) Bener gak sih Pak? Setelah selesai sekolah, orang tua saya menyuruh saya ke Jakarta. Biar bisa bantu adik-adik. Maksudnya ibu, sekalian dapat jodoh orang kota gitu
parinem : (menepuk bahu Sri) Yang sopan bicaranya! Biarkan pak Paijo berbicara!
Paijo : (berusaha tersenyum) Tentu saja enak! Katanya, jadi pemulung saja bisa kaya.
Parinem : (penasaran) Trus kenapa Bapak masih di desa?
(Sri memukul tubuh Parinem)
Parinem : (kesal sambil mengelus-elus lengannya) Sakit!
Narator : menjelaskan tentang kepala sekolah.
Narrator 2 : Persahabatan lama jadi jaminan, memberi pekerjaan bagi keturunan sang sahabat. Karena kasihan atau karena budi yang perlahan-lahan memudar seiring berlarinya waktu?
(Subroto masuk ke kamar Paijo)
Subroto : (penasaran) Ada apa ini?
(Sri, Parinem, dan Paijo terdiam)
(semua murid pergi tergesa-gesa)
Subroto : (merangkul pundak Paijo) Sudahlah jangan kamu dengarkan perkataan mereka. Omongan anak-anak! Tempatmu di sini! Membangun desa ini. Kamu tahu alasanku mempekerjakan kamu di sekolah ini meski kamu bukan lulusan pendidikan guru?
(Paijo terdiam sambil memandang Subroto dengan pandangan bingung)
Subroto : Bapakmu minta agar aku membantunya menjaga keluarganya. Ia ingin kamu tetap di desa. Menjaga ibumu...hanya kamu anak mereka.
Paijo : Tapi Bejo...
Subroto : Ah! Bejo memang susah di atur. Saya juga inginya ia jadi guru saja, tapi ... ia ingin ke Jakarta. Entah kerja apa di sana. Kalau di tanya selalu saja menghindar. (tertunduk sebentar) kamu dilahirkan untuk desa ini.
(Paijo kembali tidur di tempat tidurnya)
Scene 5:
Narator : menjelaskan tokoh Sulastri dan Aini.
Narrator 2 : Seiring dengan pertambahan usia dan berkurangnya bukan berarti kebijaksanaan dan pemahaman akan arti kehidupan juga semakin bertambah. Bukankah mereka yang pandai adalah mereka yang mengaku dirinya bodoh, daripada mereka yang mengaku pintar padahal sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa?
(Ponirah sedang ngobrol dengan Sulastri dan Aini, sedangkan Paijo memandangi mereka dari kejauhan)
Sulastri : Lagi sibuk Yu?
Ponirah : (mendongakkan wajah sambil tersenyum lebar) Eh, Yu Sulastri dan Yu Aini. Darimana mau kemana?
Aini : (mengeluarkan bungkusan) Saya ingin kasih ini. Oleh-oleh dari anak-anak saya.
Ponirah : (menerima) terima kasih! Sukses ya di Jakarta?
Aini : Alhamdulillah Yu! Bawa banyak barang-barang. Trus bisa kasih saya uang lagi.
Ponirah : (tersenyum) Wah, senang dong! Kerja apa di Jakarta?
Aini : (bingung) katanya bagian jasa.
Ponirah : (penasaran) Jasa apa?
Aini : Aduh! Saya lupa tanya. Pasti kerjaannya halal la! Kan sejak kecil diberi ilmu agama yang baik oleh bapaknya. Gak mungkin mereka terjerumus!
Ponirah: (kesal. Lalu mengalihkan ke Sulastri) Gimana kabar Bejo?
Sulastri : (tersenyum) Baik Yu! Sekarang dia sudah bisa membelikan saya motor.
Ponirah : (kesal) Mana motornya? Kok nggak dipakai?
Sulastri : (tersipu malu) Belum bisa naik motor. (sombong) Tapi, itu nggak penting Yu. Yang penting Bejo mampu belikan saya motor. Hebat ya anak saya?
Ponirah : (kesal) Iya, hebat!
Sulastri : Gimana kabar Paijo? Nggak ada niatan mengikuti jejak Bejo? Sayang kan wong lanang di rumah saja.
Ponirah : Dia temani saya di sini. Lagipula saya tidak ingin Paijo jadi orang yang berlebihan.
Sulastri : (bingung) Berlebihan? Maksud Yu?
Ponirah : Biasa, kalau baru pulang dari kota suka pake barang-barang mewah yang sebenarnya belum di butuhkan untuk kehidupan di desa.
Sulastri : (kesal) Kalau kita punya kenapa nggak! Tapi... tujuan Bejo ke kota untuk belajar hidup mandiri.
Ponirah : Setahu saya mandiri seseorang nggak bisa dilihat dari keberadaan dia hidup, tapi apa yang dilakukan untuk hidup.
Aini : (tangan kiri memegang bahu kanan Sulastri dan tangan kanan memegang bahu Ponirah) Sudahlah! Tiap orang punya jalannya masing-masing. Nggak salah Bejo belajar mandiri di kota dan nggak salah juga Paijo tetap di desa.
Narrator 2 : Hari demi hari berwarna kelabu. Menahan kekesalan yang kian menggigit. Ingin rasanya memberontak, memalingkan jiwa rapuhnya ke dalam masa dan lembar-lembar kertas kehidupan yang kian menguning. Hati ini kian memberontak. Menggedor-gedor jiwa. Ingin keluar. Ingin menjerit. Melengking. Dan pergi. Sejauh mungkin. Meninggalkan tawa renyah dunia yang terdengar kian sengau dan sumbang. Kemanakah kan dibawa hati yang kian terpenjara?
BABAK III
Awal Paijo bertemu Retno hingga saling berkirim surat
Scene 1:
Narator : menjelaskan tokoh ustadz.
Narrator 1 : Bilakah seorang guru, disebut guru, apabila ia dilebihkan sedikit ilmu, dilebihkan sedikit derajat, dilebihkan sedikit kedudukan, daripada hamba yang lain? Nikmatkah itu? Ataukah ujian?
(Ustadz masuk kamar ketika Paijo sedang bengong di atas tempat tidurnya)
Ustadz : (mendekati Paijo) Kamu kenapa? Bapak liat kamu murung terus!
Paijo : (tersenyum terpaksa) Ah, tidak ada apa-apa.
Ustadz : (penasaran) kamu bisa bohongi semua orang, tapi tidak saya. Ceritakanlah, siapa tahu saya bisa bantu.
(Paijo memandang ragu pada Ustadz)
Ustadz : (memaksa) Ngomong saja! Rahasia terjamin!
Paijo : (bingung) Pak, dimana kah seorang Pria seharusnya berada?
Ustadz : (bingung) Di depan! Menjadi pemimpin!
Paijo : (bingung) Lalu apa yang harus dipilih pemimpin itu jika dihadapkan dua pilihan. Nama baik atau bakti pada orang tua.
Ustadz : (bingung) Mmm...pilihan yang sulit. Kamu hanya perlu merenungkan. Saya yakin kamu bisa menemukan jawabannya. Mulai sekarang lebih dekatkan diri pada Allah. Jangan pernah tinggalkan sholat lima waktu! Pelajari Al Qur’an dan rajinlah bangun malam!
(azan)
Ustadz : (berdiri) Ayo kita Sholat! Sudah masuk waktu sholat!
Paijo : (menengadahkan wajahnya dengan raut bingung) Baik!
Scene 2:
(Monolog puisi – Paijo pulang dari musholla di senja hari. Berjalan termangu-mangu menuju telaga)
Paijo : (bingung) Siapakah yang dapat mendengar teriakan jiwaku? Yang tengah menjerit-jerit di dalam ruang kalbuku? Kemanakah akan kubawa segala gundahku? Apakah dapat kutenggelamkan bersama sinar merah matahari? Jauh ke dalam telaga duka yang sunyi? Atau terbang dibawa angin yang bertiup dingin? Lepas… Bebas… Menjauh menuju senja???
(Paijo hendak menceburkan diri ke dalam telaga, tapi ia melihat Retno yang duduk di seberang telaga)
Paijo : (penasaran) Siapakah dia? Apa yang ia pandang? Apakah ia terlena pada jernihnya air telaga duka ini? Telaga dukaku yang hendak menelan semua sepiku. Apakah ia sama kesepiannya seperti aku? Siapakah namanya? Dan kenapa ia duduk di sana? Di tepi telaga tanpa melakukan apa-apa? Hanya menatap senja yang kian memerah? Ya Tuhan, katakanlah padaku siapa dia?
Narator : Keesokan senja.
Narrator 1 : Hari telah berganti. Waktu terus berdentang. Mengganti seribu kisah, memupus sejuta lara dan cairkan rindu yang kian membiru.
Paijo : (Paijo kembali datang ke telaga itu, mengintip dari balik rumpun bambu dan alang-alang) Wahai telaga duka, tempatku meleburkan gelisah tanpa bekas, hanyut tersedot nyanyian kupu-kupu. Rasa ini telah berbunga. Bunga cinta yang mendatangkan pelangi berjuta rasa. Bongkahan penghapus segala lara di dalam jiwa. Engkau, engkau perempuan di seberang sana, engkau yang datang dan pergi bersama senja, kau warnai hatiku yang merana. Mengapa setiap sore engkau duduk di tepi telaga itu?
Scene 3:
Opening oleh monolog puisi Retno yang menanti Widodo dan monolog-monolog puisi Paijo yang jatuh cinta pada Retno yang membuat ia tiap sore ke telaga dan kemudian mereka saling berkirim surat
Retno : Senja ini, samakah seperti kemarin? Atau kemarinnya lagi? Atau kemarin dan kemarinnya lagi? Air di telaga ini masih jernih, alang-alang itu masih tumbuh di sekitar telaga, dan daun-daun kian berguguran, berserak di bawah kakiku yang tanpa alas. Kemanakah dapat kulabuhkan penantian ini? Bilakah alam berbaik hati membalikkan telapak tangannya untukku, memundurkan jarum jam hingga aku kembali ke masa itu? Masa-masa bahagia penuh cinta? Penuh senyum dan cahaya? Tahukah engkau, Kanda, aku masih di sini… Menunggu kedatanganmu di sini… Kebayaku sudah tidak putih lagi… Cokelat kini warnanya… Kain lurikku bukan lagi cokelat… Hitam kini warnanya…
Paijo menatap Retno dari balik alang-alang di seberang telaga duka
Paijo : Perempuan…Siapakah engkau? Mengapa dengan menatap wajahmu yang cantik dibias merah senja, merekahkan segala rasa di dalam dada? Menghilangkan resah dan gelisah? Tuhan… sungguh aku tidak menyangka… Bertemu dengannya di sini, saat hatiku meniti tepian keputus-asaan, Kau lemparkan bingkisan kejutan ke dalam pangkuanku, Ya Tuhan… Manis… Semanis madu… Berbungkus merah dan berpita biru… Merdu… Semerdu nyanyian burung-burung hinggap di pundaknya… Mengapa tiap sore engkau selalu duduk di tepi telaga itu? Dengan apakah aku dapat mengetahui siapa dirimu?
Paijo memberanikan diri mengirim surat pada Retno, dilanjutkan dengan surat menyurat antara Paijo dan Retno
Surat Paijo 1:
Kepada engkau yang termenung di telaga ini, aku selalu melihatmu kala senja hari di sini. Yang membuat dirimu terlihat lebih indah dari semuanya. Kau bagai mentari senja nan indah, seindah sore ini. Aku ingin mengenalmu. Mengenal tawa dan senyummu. Kelakarmu, tangismu dan bahagiamu.
Duhai engkau, biarkan aku sedikit tahu banyak tentangmu. Sampai aku tak terbelenggu dengan rasa penasaranku. Tolong, janganbiarkan aku menunggu mengenalmu lebih lama lagi.
Ttd
Paijo
Surat Retno 1:
Siapakah engkau? Di manakah gerangan dirimu berada? Dari tepi telaga ini, aku tak dapat menangkap sosokmu. Betapa beruntungnya engkau masih bisa melihat indahnya mentari senja. Karena bagiku, langit senja ini semerah hatiku. Paijo... kau boleh panggil aku Retno...
Ttd
Retno
Surat Paijo 2:
Aku tahu kini, retno namamu. Nama itulah yang membuatku menjadi penasaran. Membuatku seolah tak ingin mengenal orang lain selain dirimu. Jika boleh aku tahu, mengapa kau selalu bersemayam di senja hari? Di mana kau saat mentari bersinar atau kala langit berselimut bintang? Aku ingin melihatmu di setiap waktuku jika aku bisa. Namun senja membatasiku. Retno, aku senang bisa berkenalan denganmu.
Ttd
Paijo
Surat Retno 2:
Duhai Paijo... tahukah engkau? Senja ini adalah haribaanku. Telaga ini adalah altar atas dukaku. Mentari dan rembulan tak berarti lagi. Karena siang malamku tlah terkubur bersama asa. Dan engkau, Paijo, apa yang membuatmu datang ke telaga ini? Apa yang merunut langkahmu hingga terdampar di senja ini?
Ttd,
Retno
Surat Paijo 3:
Retno... Sebenarnya, aku memiliki sebuah keinginan. Hasratku untuk dapat terbang jauh dari sini. Bagai burung, aku ingin bebas. Ingin kulihat segala indahnya lintang dan bujur bumi. Ingin kujamah segala sakit yang mungkin ada di belahan kutub sana. Ingin kutorehkan sejarah hidupku pada delapan penjuru mata angin. Namun... Seseorang menentangku. Yang pada telapak kakiknya lah surgaku berada. Yang dengan darahnyalah aku hidup. Retno... Aku hanya ingin hidupku, apa itu salah? Bila hidupku bukan lagi milikku, lantas untuk apa lagi aku ada di dunia?
Surat Retno 3:
Jangan pernah berfikir seperti itu...bersabarlah, Paijo... Sabar itu adalah pelita hati, penghias akhlak dan penenang jiwa. Percayalah, buah kesabaran itu manis rasanya. Dan ingatlah selalu kepada Sang Maha Kasih. Karena Dia-lah kita bisa bertemu di sini, hanya melalui secarik kertas. Ikhlaslah dalam menjalani hari-harimu, Paijo...
Ttd
Retno
Surat Paijo 4:
Makasih Senja, atas nasehatmu. Itu menyegarkan otakku. Membangkitkan semangatku lagi. Betapa dalam hatimu, betapa luas pikiranmu. Betapa segalamu telah terbitkan rasa dalam relungku. Kini ia menganak sungai, beriak-riak di jiwaku. Tapi suka tak suka aku harus mengatakan ini padamu. Sujud ampunku di kakimu, atas kelancanganku memelihara rasa ini. Namun sungguh, aku tak sanggup lagi mendustai hati.
Ttd,
Paijo
BABAK IV
Surat-surat Paijo yang menumpuk, Paijo menanti-nanti Retno hingga Retno diketemukan dalam keadaan membusuk
Scene 1:
Surat-surat Paijo menumpuk, tidak dibalas lagi dan Retno menghilang dari telaga
Narrator 2 : Senja kian tua. Surat-surat penghantar cinta Paijo pada Retno kian menumpuk sampai ke bulan. Yang dipuja kini menghilang di dalam rindu yang tak terbilang…
(Monolog Paijo dalam puisi yang merasa kehilangan)
Paijo : (duduk di atas batu dengan wajah putus asa)Kemanakah ia? Sakitkah? Atau marahkah ia setelah membaca surat terakhirku padanya? Sehingga ia tidak mau lagi berkirim surat denganku? Tahukah ia, betapa rinduku ini dapat mengalahkan tingginya ngarai di desa kita? Mengalahkan tingginya langit senja? Mengalahkan tingginya mentari yang beranjak ke peraduannya? Mengalahkan jauhnya kerlip bintang-bintang? Dan mengalahkan dalamnya telaga duka ini? Tahukah ia, wajahnya bertaburan di dalam mimpiku? Di dalam anganku? Curahan hatiku yang mengerti jiwaku? Belahan jiwaku? Tahukah ia, aku merindukan melihatnya duduk, di sana, di tepi telaga itu, dengan kecipak kakinya di permukaan air, termenung di dalam kesunyian???
(Paijo pulang ke rumahnya dengan perasaan linglung dan langkah gontai)
Scene 2:
Paijo baru selesai shalat, minta petunjuk pada Allah (dengan nada marah) tentang keberadaan Retno – monolog puisi Paijo
Paijo : (mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan wajah dengan raut memaksa)Ya Allah… Yang Maha Mengetahui apa-apa yang tersembunyi dan yang tidak tersembunyi, bagaimana dapat kulalui hari tanpanya? Tanpa dia yang menjadi tempat curahan hatiku? Bahagiaku? Cintaku? Mengapa ia menghilang begitu saja setelah membaca surat pernyataan rasaku padanya? Mengapa? Mengapa Ya Allah? Mengapa begitu banyak jawaban yang tidak terjawab? Mengapa Kau membiarkanku kebingungan dalam kerinduan yang kian menyesakkan ini? Mengapa Kau membiarkan aku tenggelam di dalam duka yang kian menyeretku ke dalam keputus asaan? Mengapa? Aku ingin jawaban-Mu, Ya Allah. Bukan pertanyaan. Jawaban. AKU INGIN JAWABAN. DI MANAKAH RETNO BERADA KINI? AKU INGIN JAWABAN-MU SEKARANG JUGA. SEKARANG!!!
(terdengar suara riuh di luar rumah Paijo dan derap langkah yang terburu-buru)
Scene 3:
(Ponirah ke luar rumah. Terbengong-bengong melihat keramaian)
Ponirah : (menarik tangan Bejo) Ada apa kok pada Melayu?
Bejo : (berhenti) Ada mayat wanita mengapung di telaga. Sudah bau dan membusuk!
(Bejo kembali dalam kerumunan dan Ponirah masuk ke dalam rumah)
Ponirah : (nafas terengah-engah) Paijo, ayo ke telaga. Kata orang ada mayat wanita yang sudah bau dan membusuk.
(tanpa komentar Paijo langsung lari menuju telaga)
Paijo tidak dapat berkata-kata. Ia terlongong-longong menatap mayat Retno
Narrator 2 : Manusia… Yang selalu perlu waktu untuk memahami dan mengerti… hikmah di balik setiap peristiwa… yang tergurat di atas kanvas kehidupan dunia… bahwa kadang kala… segala sesuatunya tidak harus selalu membutuhkan jawaban… melainkan pemahaman …
Paijo : Inikah jawaban-Mu untukku, Ya Allah???
(dengan terbata-bata)
********The End*********